“SETIA PADA KEBENARAN”: Renungan, Selasa 6 Februari 2024

0
1367

Pw. S. Paulus     Miki, ImdkkMrt (M).

BcE 1Raj. 8:22-23,27-30; Mzm. 84:3,4,5,10,11; Mrk. 7:1-13.

Dalam hidup keseharian kita, barangkali kita pernah jumpai orang-orang yang memiliki dua kepribadian, yaitu ingin dipuji dan yang tulus hatinya. Mungkin saja kita juga memiliki dua kepribadian tersebut tanpa kita sadari. Kebaikan yang sejati, istimewa, luar biasa tidak selalu nampak dari penampilan luar seseorang atau dari apa yang dimilikinya, tetapi kebaikan sesungguhnya adalah berasal dari niat dan kepedulian seseorang yang tulus dari hatinya dan diwujudnyatakan dalam tindakannya sehari-hari. Kebaikan yang sesungguhnya, kebaikan sejati berasal dari hati yang tulus.

Dalam bacaan injil hari ini, penginjil Matius mengajak kita semua untuk menjadi pribadi-pribadi yang memperjuangkan kesetiaan dalam menjalani hidup di dunia ini. Orang yang setia adalah orang yang jujur, tidak munafik, tidak egois, tidak mau menang sendiri, dan berani mengatakan ya pada yang benar. “…Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Mrk. 7:6). Kita pun demikian kadang hidup dalam kemunafikan, kita tidak berani mengatakan ya pada kebenaran. Mungkin karena kita memiliki ego yang tinggi, kita tidak mau direndahkan dan disalahkan, mau mendapatkan apa yang kita inginkan, atau takut karena diancam atau untuk melindungi dan menjaga nama baik orang lain yang kita sayangi. Semuanya kita lakukan untuk kepuasan pribadi kita sendiri. Ingin dipuji, ingin dihormati dan dihargai,  dan mungkin karena mau melindungi orang lain.

Kita semua juga memiliki aktivitas dan rutinitas kita masing-masing, dengan berbagai kesibukan yang harus dilalui dan dijalani yakni bekerja, belajar, berdoa dan lain sebagainya. Waktu kita dihabiskan untuk semuanya itu dan pada akhirnya kita jatuh pada tindakan rutin yang dilakukan tanpa ada arti. Kita hanya melakukannya untuk menjalankan kewajiban-kewajiban kita agar dilihat atau dipuji orang. Namun hati kita tidak demikian tulus dalam melakukan dan melaksanakan semua kegiatan dan kesibukan kita. Kita akhirnya sama seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang lebih mementingkan tradisi dari pada Tuhan Yesus yang hadir pada saat itu.

Mulai hari ini jadilah pribadi-pribadi yang taat dan setia bukan hanya pada aturan-aturan duniawi yang mengikat kita, tetapi juga dan terlebih pada Allah. Lakukanlah hal-hal baik dan benar yang dikehendaki Allah. Inilah yang dapat mengantar kita untuk memperoleh keselamatan, sama seperti St. Paulus Miki dan kawan-kawan yang siap dan rela mati sebagai saksi-saksi iman dan kebenaran.

Redaksi

“Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Mrk. 7:6).

Marilah berdoa:

Ya Allah yang Mahasetia, mampukanlah kami agar menjadi pribadi-pribadi yang setia kepada-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini