“MENJADI ANAK-ANAK ALLAH”: Renungan, Rabu 3 Januari 2024

0
1079

Hari Biasa Masa Natal (P)

1Yoh. 2:29 – 3:6; Mzm. 98:1,3cd-4,5-6; Yoh. 1:29-34.

Beberapa waktu lalu semua orang Kristen dengan penuh sukacita merayakan perayaan Natal, yakni peristiwa kelahiran Yesus Sang Mesias. Peristiwa kelahiran adalah awal dari kehadiran nyata Yesus yang adalah Allah di dunia untuk memenuhi rencana keselamatan Allah bagi manusia. Demikianlah Sang Firman telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Namun kehadiran Yesus sebagai Mesias tidak disadari orang-orang Yahudi kala itu. Ketidakpercayaan itu membuat mereka menolak Yesus.

Dalam bacaan injil hari ini Yohanes Pembaptis dengan kepercayaan yang teguh memberi kesaksian bahwa Yesuslah Sang Mesias itu. Ia mengatakan: “Tetapi yang mengutus aku membaptis dengan air berfirman: Jikalau Engkau melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Roh itu tinggal di atasNya, Dia itulah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihatnya! Maka aku memberi kesaksian: Dia inilah Anak Allah!” Sebagai orang Kristen kita percaya akan perkataan ini. Kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Dengan iman ini kita sesungguhnya diangkat menjadi anak-anak Allah, seperti yang tercatat dalam bait pengantar injil: “Firman telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, semua orang yang menerimaNya diberi kuasa menjadi anak-anak Allah.”

Kita perlu hidup sebagai anak-anak Allah berbuat seperti yang telah difirmankan oleh Allah sendiri melalui PuteraNya Yesus Kristus. Yohanes dalam bacaan pertama mengatakan “sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata bagaimana keadaan kita kelak”. Yohanes mengingatkan kita bahwa dengan diangkat menjadi anak-anak Allah, kita tidak langsung memperoleh keselamatan dari Allah, jika kita tetap hidup di dalam dosa. Sebab jika kita tetap berada di dalam dosa kita dianggap tidak melihat dan bahkan tidak mengenal Yesus. Dengan demikian kita tak berbeda dengan orang-orang Yahudi yang sama sekali tidak mengenal Yesus.

Memang benar bahwa manusia adalah makhluk lemah yang tak luput dari dosa dan kesalahan. Namun itu tak berarti kita secara bebas dapat mengulanginya.  Sebagai makhluk yang lemah hendaklah kita selalu datang kepada Tuhan, memohon ampun atas segala pelanggaran-pelanggaran kita dan membangun tekad untuk hidup menurut apa yang difirmankanNya. Jadilah anak-anak Allah yang berusaha agar selalu hidup menurut perintah-perintahNya.

(Fr. Angky Savsavubun)

“Setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia” (1Yoh. 3:6)

Marilah berdoa:

Tuhan, mampukanlah kami agar hidup menurut kehendakMu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini