“HAMBA TUHAN”: Renungan, Selasa 2 Januari 2024

0
1088

Pw S. Basilius Agung dan Gregorius dr Nazianze, UskPujG (P).

1Yoh. 2: 22-28; Mzm. 98: 1, 2-3ab, 3cd-4; Yoh. 1: 19-28.

Orang pada umumnya sangat suka untuk menjadi terkenal, entah karena jabatannya ataupun karena keahlian yang dia miliki. Maka menjadi terkenal adalah salah satu impian dan cita-cita yang hendak dicapai oleh semua orang, sebab ketenaran seseorang dinilai mampu menjamin kehidupan pada zaman sekarang ini. Namun nampaknya kini ada banyak orang yang lebih suka menunjukkan diri mereka sendiri dengan memamerkan jabatan dan kekuasaannya. Sikap ini tanpa disadari membawanya pada keegoisan dan kesombongan diri. Nilai kerendahan hati pun mulai dikesampingkan.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang tanggapan Yohanes Pembaptis ketika ia ditanya oleh para imam dan orang-orang Lewi tentang siapa dirinya. Suatu pertanyaan yang mengarahkan Yohanes Pembaptis untuk mengungkapkan jati dirinya. Terhadap pertanyaan itu, Yohanes Pembaptis menjawab: “Aku bukan Mesias”. Jawaban yang menyatakan identitas dirinya sebagai seorang hamba Tuhan, bukan sebagai orang yang semata-mata hendak mencari ketenaran dan kedudukan bagi dirinya sendiri. Tetapi dia dengan rendah hati menyadari bahwa dia bukanlah Mesias yang dinantikan. Dia hanyalah hamba yang mempersiapkan jalan bagi Anak Manusia dan karena itu Yohanes Pembaptis berkata : “Membuka tali kasutNya pun aku tak layak”.

Hari ini Gereja secara universal merayakan peringatan wajib St. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze. Kedua orang kudus ini semasa hidupnya dikenal sebagai orang yang berani berkhotbah menentang bidaah Arianisme yang menyangkal bahwa Yesus adalah Tuhan. Keduanya berusaha melawan ajaran sesat ini dengan berkhotbah dan melakukan berbagai pengajaran iman. Hal ini dilakukan supaya orang Kristen tetap percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Corak hidup ini menunjukkan bahwa mereka adalah hamba Tuhan yang setia dan rendah hati dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka tidak serta merta menonjolkan jabatan mereka sebagai uskup, melainkan menyadari tugas mereka sebagai pelayan dan hamba Tuhan.

Kisah Yohanes Pembaptis lewat Injil yang hari ini kita dengarkan serta kedua orang kudus yang hari ini kita peringati, mengajarkan kita semua sebagai orang Kristen untuk tetap rendah hati dengan menyadari diri kita sebagai seorang hamba Tuhan. Menjadi pemimpin bukan dimaksudkan untuk menyombongkan kekuasaan, melainkan menghidupi semangat pelayanan sebagai seorang hamba baik terhadap sesama maupun kepada Tuhan sendiri.

(Fr. Slivin Batlayeri)

“Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak” (Yoh. 1: 27b)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berkatilah kami supaya tetap rendah hati dan selalu menjadi hamba-hambaMu yang setia. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini