“FIRMAN DAN PELAYANAN”: Renungan, Kamis, 5 Oktober 2023

0
2006

Hari Biasa (H)

Neh. 8:1-4a, 5-6, 7b-12; Mzm. 19:8,9,10,11; Luk. 10:1-12.

Bacaan pertama yang kita dengarkan hari ini mengisahkan momen bersejarah bangsa Israel. Mereka berkumpul di depan pintu Gerbang Air untuk mendengarkan Kitab Taurat. Mereka sangat merindukan firman Tuhan sehingga dengan penuh hormat dan kerendahan hati mereka mendengar dan merenungkan makna firman tersebut dalam kehidupan mereka. Dalam kisah ini, kita dapat melihat betapa pentingnya mendengarkan Firman Tuhan. Ketika Taurat dibuka dan dibacakan, bangsa Israel berkumpul dengan penuh semangat. Mereka kehausan akan firman Tuhan. Mereka memberikan teladan bahwa Firman Tuhan harus menjadi inti hidup. Oleh karena itu, Firman Tuhan harus direspons dengan tulus dan hormat serta menerima kebenarannya. Firman Tuhan adalah sumber kebijaksanaan, penghiburan, dan petunjuk bagi kita. Dari Bacaan pertama kita dapat merefleksikan kehidupan kita. Sejauh mana firman Tuhan itu penting dalam hidup? Sudahkah kita dengan penuh ketulusan dan hormat mendengarkan dan merenungkan firman Tuhan? Kalau melihat realita yang ada, banyak dari kita mungkin lebih tertarik dengan hiburan-hiburan yang ada di media sosial dari pada firman Tuhan itu sendiri.

Bacaan pertama tadi membantu kita untuk lebih memahami makna Injil hari ini. Dalam Injil dikisahkan Yesus mengutus murid-muridNya untuk melayani dan memberikan damai sejahtera. Mereka diberi tugas untuk pergi dan memberikan sukacita, menyembuhkan yang sakit, dan memberikan damai sejahtera kepada orang-orang yang mereka temui. Ini adalah panggilan untuk kita juga. Kita harus berusaha untuk menjadi pembawa damai dan sukacita dalam dunia yang sering kali penuh dengan konflik dan kegelisahan.

Namun untuk menjadi pelayan yang baik kita harus mampu mendengarkan dan merenungkan Firman Tuhan. Sebab buah dari Firman Tuhan itu sendiri adalah melayani. Bagaimana mungkin kita melayani lantas Firman Tuhan itu sendiri tidak kita maknai dengan baik. Bagaimana mungkin kita menjadi pelayan lantas kita tidak tahu kebenaran Firman Tuhan. Sebab itu ada pepatah latin mengatakan “Nemo Dat Qoud Non Habet!” yang artinya: tak seorang pun memberikan apa yang ia tidak punya. Kita tidak bisa mewartakan kebenaran kalau Firman Tuhan yang adalah kebenaran itu sendiri tidak kita dengarkan dan maknai dengan benar. Dengan demikian, marilah kita mendengarkan dan merenungkan Firman Allah dengan tulus supaya dapat mewartakan kebenaran Firman Tuhan.

(Fr. Weldy Stevan Lelung)

“Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” (Luk. 10:3)

Marilah Berdoa:

Ya Allah, mampukanlah telingaku untuk mendengarkan FirmanMu dan kuatkanlah tanganku untuk melayaniMu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini