Hari Biasa (H)
Kol. 1:1-8; Mzm. 52:10,11; Luk. 4:38-44.
“Saya akan baik kepadamu jika kamu baik padaku, dan saya akan lebih jahat jika kamu jahat kepadaku”. Kalimat ini sering terdengar di berbagai tempat. Sederhananya, kita baik pada tempat, lingkungan atau orang yang juga baik pada kita saja. Sadar ataupun tidak, panggilan kita sebagai pewarta sabda Allah menjadi terbatas. Hal inilah yang coba diingatkan kembali dalam injil hari ini.
Dalam injil hari ini bercerita tentang Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan mengusir setan dari orang banyak di Kapernaum. Mujizat itu membuat orang Kapernaum kagum dan berusaha menahanNya untuk tinggal bersama mereka. Peristiwa ini berbanding terbalik dengan yang dialami Yesus sebelumnya di Nazaret, dimana Ia ditolak setelah mereka mengenal keluargaNya. Penerimaan Yesus adalah kegembiraan bagiNya sebagai pewarta. Tetapi, sebagaimana penolakan tidak menghentikanNya demikian juga penerimaan tidak membuatNya berhenti bekerja untuk mewartakan kerajaan Allah.
Sebagai orang Katolik, kita mengemban tugas yang Yesus berikan kepada kita yakni mewartakan injil ke seluruh dunia. Kita dibaptis dengan Roh Allah untuk menjadi anggota gereja tetapi sekaligus dipanggil untuk berjalan di berbagai tempat sambil mewartakan sabda Tuhan. Dalam usaha menjadi pewarta sabda Tuhan itu, Yesus mengingatkan agar jangan terbuai. Maksudnya bahwa, dalam beberapa kesempatan kita mengamalkan sabda Tuhan dalam cara hidup hanya kepada mereka yang menerima kita, kepada yang memperlakukan kita secara baik. Kita membatasi diri untuk mencintai orang yang mencintai kita saja. Hal inilah yang membuat kita menjadi pewarta yang terbatas pada dunia yang baik, sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? (Luk. 6:33). Inilah maksud dari perintah Yesus untuk mengasihi musuh kita. Bahwa kita akan lebih berjasa jika mampu menjadi pewarta pada dunia yang menolak kita. Yesus menunjukkan bahwa penerimaan dan sikap baik dari orang-orang sekitar jangan sampai membuat kita terlena. Kebaikan dan penerimaan hendaklah menjadi kekuatan untuk menjadi pewarta bagi dunia yang menolak kita. Inilah sikap rekan kerja Allah yang menghadirkan Kristus dalam diri dan sesamanya.
Berkat pembaptisan Roh Allah tinggal dalam diri kita, maka hidup kita adalah untuk memberi kesaksian tentang Allah itu. Cara hidup yang bersaksi tentang Allah itu hendaknya bukan hanya ditujukan kepada mereka yang menerima kita, tetapi juga kepada mereka yang menolak kita.
(Fr. Alfredo Loes Ngutra)
Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku datang.” (Luk. 4:43).
Marilah Berdoa:
Tuhan, semoga aku dapat menjadi bait tempat kediaman-Mu, yang dapat bersaksi tentang-Mu.











