“BERHALA PEMIMPIN”, Renungan Senin, 28 Agustus 2023

0
979

Pw. S, Agustinus, UskPujG (P).

1Tes. 1:2b-5,8b-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Mat. 23: 13-22

Ahli-ahli Taurat dikenal sebagai orang yang pakar dalam hukum dan kehidupan keagamaan Yahudi. Mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang Taurat, yakni hukum-hukum dan ajaran Yahudi yang terdapat dalam kitab-kitab Musa. Mereka memiliki otoritas dalam mengajarkan dan memutuskan masalah-masalah keagamaan pada zamannya.

Bacaan injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengecam para ahli Taurat. Kecaman Yesus terhadap mereka didasarkan atas perilaku dan sikap yang menyimpang dari ajaran dan kehendak Allah. Mereka seringkali tidak memperhatikan prinsip-prinsip moral, cenderung menjaga tradisi dan tata cara keagamaan, tetapi terkadang mengabaikan nilai-nilai esensial seperti keadilan, kasih, dan kerendahan hati. Kecaman Yesus kepada ahli-ahli taurat sesungguhnya terarah pada sikap pertobatan. Tujuan-Nya ialah untuk membangun kualitas hidup yang didasarkan pada kebenaran, keadilan, dan kasih.

Mereka mengajarkan hidup seturut dengan hukum tetapi tidak melaksanakannya dalam kehidupan mereka sendiri. Mereka menuntut pengamalan hukum-hukum tetapi mengabaikan keadilan, kasih, dan kerendahan hati serta relasi dengan Allah dan sesama. Mereka adalah orang-orang yang punya kemampuan intelektual, punya pemahaman moral tetapi dalam praksis hidup sehari-hari seringkali mereka tidak mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.

Realitas semacam ini masih kita alami hingga saat ini. Banyak pemimpin masa kini yang dalam kepemimpinannya sering menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi, kelompok, ataupun organisasi tertentu. Mereka seringkali mengabaikan nilai yang lebih tinggi seperti keadilan dan kesejahteraan umum. Mereka menjalankan kekuasaan tersebut bukan untuk kepuasan batiniah tetapi demi kepuasan badani. Dibalik hal itu terselubung sikap penghambaan atas kenikmatan duniawi, dan hal ini merupakan berhala seorang Pemimpin.

Kritik Yesus terhadap ahli-ahli Taurat adalah kritik untuk kita semua, dengan maksud agar seorang pemimpin dan juga kita semua membangun hidup dalam keselarasan antara ajaran dan praktik, perkataan dan perbuatan. Membangun hidup yang dipenuhi dengan kasih dan kesederhanaan, kebenaran dan keadilan. Kritik Yesus juga menjadi panggilan ke dalam pertobatan dan perubahan hati.

Dalam konteks ini, kita perlu terbuka terhadap karya Roh Kudus tetapi juga sikap menyangkal diri. Sikap yang sedemikian ini membantu kita untuk melaksanakan tugas dan kewajiban kita dalam terang Roh Kudus sehingga tidak lagi mementingkan kehendak pribadi dan kenikmatan badani tetapi apa yang dikehendaki Allah. Kita bisa belajar dari para rasul dan juga santo Agustinus yang dalam kepemimpinannya, mereka mementingkan nilai-nilai yang lebih tinggi seperti kebenaran, kerendahan hati, keadilan, dan cinta kasih.

(Fr. Alosius Gonsaga No)

Celakalah kalian hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: bersumpah demi Bait suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait suci, sumpah itu mengikat”      (Mat. 13:16)

Doa:

Ya Allah curahkan Roh Kudus-Mu atas diri kami agar kami mampu memimpin dalam kebenaran dan kebajikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini