Pw. Wafatnya St. Yohanes Pembaptis, Martir (M).
Yer. 1:17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,17; Mrk. 6:17-29.
Dalam hidup kita seringkali diperhadapkan dengan berbagai macam persoalan. Entah itu persoalan dalam masyarakat, keluarga, teman ataupun pribadi. Dalam pergumulan itu, batin kita pasti akan merasa bimbang seraya diliputi dengan berbagai perasaan yang menyakitkan dan mengkhawatirkan. Dalam situasi seperti itu, kita pun diajak untuk mengontrolnya dengan bijak dan sebaik-baiknya. Tujuannya ialah agar kita tidak mudah jatuh dengan hasutan si jahat. Mengapa? Ketika kita jatuh maka kita akan cenderung melakukan tindakan yang bertentangan dengan apa yang dikehendaki oleh Allah.
Dalam Injil Markus, kita telah mendengar kisah pembunuhan Yohanes Pembaptis. Sebelum dibunuh, ia ditangkap dan dibelenggu di dalam penjara. Hal ini dikarenakan Yohanes pernah menegur Herodes yang memperisteri Herodias yang adalah istri saudaranya. Mendengar hal itu Herodias marah dan berencana membunuhnya, tetapi tidak dapat. Usaha untuk membunuh Yohanes pun kemudian terbalaskan pada hari ulang tahun raja Herodes. Dalam acara itu, tarian anak perempuan Herodias menyukakan hati Herodes sampai-sampai ia bersumpah untuk memberikan apa pun kepada anak itu. Ibunya, Herodias menghasutnya untuk meminta kepala Yohanes. Akhirnya, dengan sedih hati Herodes tetap mengabulkan permintaan itu. Yohanes pun dibunuh agar nama baiknya tidak ternodai oleh sumpahnya sendiri.
Hasutan menjadi dasar pembunuhan Yohanes Pembabtis. Seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik baik bagi anak-anaknya; ia tidak ingin anaknya terluka; seorang ibu selalu memberikan kedamaian dan kenyamanan bagi anaknya. Hal ini menandakan bahwa seorang ibu dan anak pasti memiliki kontak batin yang sangat erat. Apa yang diperintahkan ibunya pasti dituruti oleh anaknya, begitupun sebaliknya. Berbeda dengan ibu Herodias, karena dendam ia mengajarkan sesuatu yang tidak baik dan pantas bagi anaknya. Ia justru menghasut anaknya untuk meminta kepala Yohanes Pembaptis. Tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, sebab iblis telah memprakarsainya sebagai media untuk merealisasikan dosa.
Belajar dari kisah dalam Injil hari ini, kita pun diingatkan agar kita tidak mudah terhasut oleh sesuatu yang tidak baik, apalagi sesuatu yang merusak bahkan mencelakakan. Sebab, hasutan seperti itu berasal dari si jahat (iblis). Iblis selalu merasuki hati manusia lewat kelemahannya agar dapat jatuh dalam dosa. Iblis tidak ingin manusia hidup dalam kebenaran dan kebaikan. Karena itu, hari ini Tuhan Yesus menghendaki kita agar selalu berpegang pada-Nya, menjadikan Ia sebagai sumber hidup, jalan terang dan sumber keselamatan. Salah satu contoh yang dapat kita buat ialah, membangun hidup doa kita. Doa akan senantiasa membuat relasi kita dengan Tuhan selalu terjalin erat; dan dengan doa kita pun akan tahan uji terhadap setiap godaan atau buaian si jahat.
(Fr. Liberatus Lamere)
“Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” (Mrk 6:18)
Doa:
Ya Tuhan, semoga Roh-Mu senantiasa memampukan kami agar tidak terbuai oleh hasutan si jahat. Amin.











