Hari biasa Pekan V Prapaskah (U).
BcE Kej. 17:3-9; Mzm. 105:4-5,6-7,8-9; Yoh. 8:51-59.
Salah satu hal yang tidak dapat kita pungkiri dalam kehidupan yakni kita sering bercerita dan menceritakan orang lain, entah itu orang yang kita kasihi ataupun orang yang sering menyakiti kita. Dengan kita menceritakan orang lain berarti kita dianggap mengenal dengan baik orang yang kita ceritakan. Namun kita harus berhati-hati dalam mengasumsikan akan pengenalan terhadap orang lain. Mengapa? Karena kita sering tidak mengerti dengan mengatakan bahwa kita mengenal orang lain, hal ini sering membuat kita mudah terpeleset melewati batas halus dan masuk dalam kecongkakan dan dengan mudah meninggalkan kerendahan hati. Dalam keadaan tertentu kita tidak dapat mengatakan dengan benar tentang orang yang kita kenal, seperti kata pepatah “seseorang dalam sebuah permainan kartu kadang-kadang harus mengatakan dan menyebut kartu As sebagai yang dapat membunuh tetapi kadang orang juga mengatakan bahwa kartu As adalah kartu yang dapat membunuh permainannya sendiri”.
Dalam Injil Yohanes dikisahkan tentang Yesus yang mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Ia telah ada sebelum Abraham dan Ia telah lebih dahulu mengenal Allah, Yesus juga mengatakan bahwa barang siapa menuruti firman-Nya akan memperoleh hidup yang kekal. Pernyataan Yesus ini ditentang oleh orang-orang Yahudi yang kemudian mengatakan bahwa Yesus kerasukan setan. Tetapi apa yang menjadi pernyataan Yesus tentang diri-Nya ini merupakan pernyataan yang penuh kuasa dan tanggung jawab. Artinya Ia memang berasal dari Allah dan Ia adalah Allah. Ia sesungguhnya mengenal Allah dan Ia adalah kesatuan dari Allah Tritunggal.
Apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus tentang pengenalan-Nya akan Allah ini karena Ia tinggal di dalam Allah. Yesus selalu melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa yang mengutus-Nya kedunia untuk melakukan karya penyelamatan kepada umat manusia. Karena itu, kita sebagai pengikut Kristus dapat mengenal Allah itu dengan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, dengan menjadi pelaksana dan pelaku-pelaku firman Allah itu dalam perbuatan cinta kasih kepada sesama seperti apa yang diajarkan oleh Yesus.
Yang menjadi pertanyaan untuk kita renungankan. Apakah kita sudah menjadi pelaku firman itu dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita sudah berusaha untuk mencari Allah dalam doa-doa pribadi kita? Apakah kita sudah setia mencari Allah dalam setiap perayaan Ekaristi? Atauakah kita hanya tinggal diam saja dan menunggu Allah yang datang untuk mencari dan menyapa kita?
(Fr. Emanuel Paji Sopa)
“Aku berkata kepadaMu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh. 8:58)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, bantulah kami mengenal Engkau dalam kasihMU dalam hidup kami. Amin.











