“Melihat dengan Kasih Allah”: Renungan, Sabtu 10 Desember 2022

0
941

Hari Biasa Pekan II Adven (U)

Sir. 48:1-4,9-11; Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19; Mat. 17:10-13

Melihat merupakan kata kerja yang penggunaannya harus disertai suatu objek tertentu, misalnya saya melihat matahari, lautan dan sungai. Melihat selalu identik dengan mata, karena hanya mata yang mampu melihat. Dalam melihat, mata memiliki persyaratan yang harus dipenuhi, yakni: mata harus terbuka. Jika mata tertutup, maka tidak ada aktifitas melihat di sana. Dari hal ini dapat diketahui bahwa segala sesuatu menjadi jelas terlihat di hadapan mata yang terbuka, karena itu mata harus digunakan untuk melihat dengan jelas.

Injil hari ini menjelaskan bagaimana kekurang-jelian orang Yahudi dalam melihat. Para murid bertanya kepada Yesus mengenai kedatangan Elia yang memulihkan segala sesuatu. Yesus menjawab bahwa Elia sudah datang, tetapi orang-orang tidak mengenali dia. Banyak orang yang melihat tidak dengan sungguh-sungguh, sehingga mereka tidak menemukan Elia yang sudah hadir di tengah-tengah mereka. Melihat tidak dengan sungguh-sungguh berarti bahwa mereka tidak menganalisis apa yang mereka lihat. Coba saja jika mereka menganalisis apa yang tampak dengan menggunakan tanda-tanda zaman saat itu, pastilah Elia dapat mereka temukan dalam diri Yohanes Pembaptis. Kekurang-jelian mereka menghasilkan kematian sang “Elia”, karena mereka hanya ikut kemauan manusiawi mereka dan bukan yang dari Allah. Hal ini juga yang kemudian terjadi pada Yesus. Mereka tidak melihat dengan Kasih Allah pada dunia, yang terpenting adalah keinginan mereka sendiri yang menyesatkan.

Bacaan pertama yang diambil dari kitab Sirakh menggambarkan kehadiran Elia yang membawa pembaharuan. Yang melihat dengan baik, yaitu dengan Kasih Allah mendapatkan keselamatan yang dari Allah. Inilah yang disebut dengan melihat dengan sungguh-sungguh, sehingga mereka mendapatkan kesempatan melihat Kemuliaan Allah yang ada dalam diri Elia. Sebaliknya, mereka yang tidak melihat kasih Allah dengan sungguh-sungguh, tidak mendapatkan kebahagian.

Pertanyaannya, kedua bacaan Kitab Suci hari ini hendak mengatakan apa pada diri kita? Apa pesan yang relevan atau sesuai bagi kita sebagai orang percaya di zaman yang berbeda dengan zaman waktu Yesus di dunia? Tentu sebagai orang beriman Kristiani kita harus mengimani Yesus Sang Allah sebagai Ia yang menjadi manusia. Oleh karena itu, kita yang berada di zaman sekarang ini harus bersungguh-sungguh melihat segala sesuatu dengan kaca mata Kasih Allah. Hal ini kita lakukan agar tidak seperti orang-orang yang tidak mengenali karya Allah dalam diri Yesus dan Elia, yang hanya melihat dari “ego” kemanusiaan mereka, sehingga karya Allah pun tidak mereka terima. Kenalilah Allah sebelum terlambat!

(Fr. Kristianus Bea)

“Dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal Dia”       (Mat. 17:12a­).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bukalah mata iman kami untuk dapat mengenal Engkau lebih dalam. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini