“Pertanyaan, Jawaban, Sabar”: Renungan, Minggu 11 Desember 2022

0
1185

Hari Minggu Adven III (U)

Yes. 35:1-6a,10; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 5:7-10; Mat. 11:2-11

Seorang bijaksana pernah berkata “malu bertanya sesat di jalan”. Pengetahuan manusia hanyalah kecil dibandingkan seluruh kenyataan pengetahuan yang tersingkap dalam dunia. Dengan demikian bertanya atau memberikan pertanyaan akan sangat membantu untuk menjawab suatu kenyataan yang belum dipahami bahkan yang belum diketahui sama sekali. Pertanyaan pada dasarnya ingin menjawab dua arah jawaban; pertama diakibatkan karena ketidaktahuan, orang belum sama sekali mengetahui tentang suatu kenyataan atau suatu pengetahuan tertentu. Kedua diakibatkan karena kurang percaya atau adanya suatu keraguan atas sesuatu kenyataan dan pengetahuan.

Yohanes Pembaptis seperti yang dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini terganggu oleh pengertian yang kurang dan oleh keraguan terhadap Yesus. Oleh karena itu, Yohanes menyuruh murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain? Satu pertanyaan yang menunjukan suatu keraguan atas eksistensi Yesus sebagai Mesias. Mungkin Yohanes mempertimbangkan, bahwa boleh jadi Yesus hanya merupakan seorang perintis jalan bagi Mesias, sama seperti dirinya atau hanya sebagai seseorang yang mengaku sebagai mesias. Keraguan inilah yang membuat Yohanes mengutus muridnya untuk datang bertanya kepada Yesus.

Suatu hal yang menarik, bahwa ketika pertanyaan atas  keraguan itu sampai kepada Yesus, Ia tidak marah atau mengecam murid-murid Yohanes. Ia memberikan jawaban yang mengungkapkan keberadaan dirinya sebagai seorang Mesias. Keselamatan yang dijanjikan Allah sebagaimana yang dinubuatkan oleh Yesaya telah dan mulai digenapi di dalam diri Yesus. Yesus menjawab keraguan itu dengan karya keselamatan yang yang hadir dan nyata dalam kehidupan orang-orang Palestina.

Dalam hidup tak jarang keraguan atas kehadiran serta keberadaan Tuhan melanda diri manusia. Banyak yang bertahan dan banyak pula yang meninggalkan Sang Mesias. Yohanes memberikan satu pelajaran yang baik kepada kita: ketika kita dilanda keraguan atas keberadaan Yesus, baiklah kita pergi kepada Tuhan sendiri; baiklah kita berdoa kepada Allah untuk mendapat terang; dan baiklah kita membaca dan mendengarkan Firman Tuhan yang akan memberikan keterangan dan pengertian kepada Kita. Tuhan akan memberikan jawaban terbaik atas keraguan diri kita. Dengan sabar kita menanti jawaban dari Yesus atas keraguan diri kita terhadap-Nya sebab “Dia berdiri di ambang pintu”.

(Fr. Theofilus Pontoh)

“Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat. 11:3)

Marilah berdoa:

Tuhan, mampukan kami untuk mengenal-Mu dalam setiap pengalaman hidup kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini