“Panggilan menjadi kudus”: Renungan, Selasa 1 November 2022

0
1260

Hari Raya Semua Orang Kudus  (P)

Why. 7: 2-4, 9-4; Mat. 5: 1-12

Melalui media sosial setiap orang menyaksikan kenyataan bahwa kejahatan dan dosa telah merasuki seluruh aspek dan bidang kehidupan manusia. Penjahat dan pendosa hadir di semua tingkatan dan di pelbagai bidang kehidupan. Penjahat bisa muncul dari kolong jembatan maupun istana, dari rumah bordil sampai ke lingkungan rumah ibadat, dari tempat perjudian sampai ke tempat pendidikan baik sekuler maupun religius. Jenisnya pun bisa berupa pelecehan seksual, pelecehan keadilan dan kebenaran, penyalahgunaan kekuasaan, penggelapan milik umum, maupun penjualan manusia serta jatah di bangku pendidikan dan ijazah palsu, gelar dan jabatan, serta obat terlarang dan penyebaran dusta alias hoaks.  Dosa dan kejahatan telah menjadi kebiasaan dan budaya, sehingga anggota masyarakat sangat sulit melepaskan diri dari cengkeraman dan belenggunya. Akibatnya kekudusan dipandang sebagai impian dan halusinasi orang-orang yang tak normal.

Walaupun demikian, melalui perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus, Gereja dengan keyakinan teguh mewartakan kepada dunia bahwa “setiap orang dipanggil menjadi kudus.” Kuduslah kamu sebab Aku Tuhan Allah-mu adalah kudus. Panggilan ini berlaku untuk semua orang dari semua suku, ras, bangsa, budaya dan agama. Dalam Injil, Yesus memaklumkan Sabda Bahagia yang menjadi benih harapan dan dinamika pertumbuhan bagi hidup kudus dan bahagia. Itulah benih kebahagiaan dan kekudusan yang ditanamkan Allah dalam diri manusia agar hidupnya berbahagia. Pewartaan ini membuka harapan akan hidup yang lebih baik di masyarakat dan meneguhkan panggilan manusia untuk hidup sesuai rencana dan kehendak Allah.

Manusia dipanggil mendengarkan Firman Allah, mengenal rencana dan rancangan-Nya, mencintai kehendak dan perintah-Nya, tekun beribadat dan rajin melakukan pekerjaan baik dan benar. Demikian manusia dapat membangun persekutuan hidup Keluarga Allah. Allah menawarkan kepada semua orang hidup yang berbahagia baik di dunia sekarang maupun di akhirat. Manusia perlu memahami hidup di dunia fana ini sebagai benih hidup abadi. Agar hidup di dunia ini tidak berakhir dalam kesia-siaan maka manusia dipanggil untuk tidak mengikat harapannya pada kemuliaan yang fana ini tetapi menaruh harapan dalam Dia yang memanggil manusia kepada hidup. “Setiap orang yang menaruh harapan itu kepada-Nya, menyucikan dirinya sama seperti Dia yang adalah suci.”

Untuk mencapai hidup bahagia, kudus dan abadi manusia tidak boleh mengabaikan hidup di dunia kini. Manusia dipanggil menguduskan diri dengan menyadari kemiskinan dirinya di hadapan Allah. Ia harus berani menanggung suka duka hidup, fitnah dan aniaya demi kebenaran, berlaku lemah-lembut, memiliki kehausan dan rasa lapar akan kebenaran. Manusia perlu menyucikan hati dari kecemaran dan berani menjadi pembawa damai. Dengan kata lain setiap orang harus membasuh pakaiannya dalam darah Anak Domba. Berani dan bersedia berkorban seperti Dia dan menjadi sesama dalam membangun persekutuan hidup sebagai anak-anak Allah. Allah sendiri dalam Kristus memanggil semua orang ke dalam persekutuan hidup dengan diri-Nya. Ia menghendaki semua orang untuk hidup dalam persekutuan para kudus sebagai anggota Keluarga Allah. Dalam Dia manusia akan menjadi kudus dan berbahagia baik di dunia kini maupun di dunia akan datang. Hanya dalam kekudusan hidup, manusia dapat bersatu dengan Tuhan dan sesama serta menjadi pembawa damai serta saksi kebenaran hidup yang abadi dan bahagia.

Pst. Julius Salettia, Pr.

“Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.”

Marilah berdoa:

Tuhan, sucikanlah kami dalam kebenaran. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini