“DITUNTUN OLEH KASIH ALLAH”: Renungan, Minggu 7 Juli 2024

0
1130

Hari Minggu biasa XIV (H)

Yeh. 2:2-5;  Mzm. 123:1-2a,2bcd,3-4; 2 Kor. 12:7-10; Mrk. 6:1-6

“Aku lebih suka bermegah atas kelemahanku, agar kuasa Kristus turun menaungi aku.” Kutipan di atas mau menggambarkan bagaimana pengakuan akan kelemahan diri dapat membuka jalan bagi kekuatan Kristus untuk bekerja dalam hidup kita dan memberikan perlindungan dan bimbingan yang kita butuhkan. Bacaan-bacaan liturgi pada hari ini mau mengajak kita untuk percaya kepada penyelenggaraan ilahi dengan membiarkan diri dituntun oleh Allah, sehingga setiap orang dapat menyaksikan karya-karyaNya yang agung dan mulia.

Karya agung Allah nampak pada kesetiaannya pada perjanjian yang telah dibuat dengan Bangsa Israel, dimana walaupun mereka telah memberontak, Allah mengutus Nabi Yehezkiel untuk mengingatkan bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka. Hal ini menjadi penanda bahwa meskipun bangsa Israel dan nenek moyang mereka telah durhaka kepada Allah, namun Ia tetap setia untuk membimbing bangsa Israel dengan menuntun, menghibur dan menyertai mereka yang sementara mengalami masa-masa pembuangan dengan mengutus seorang nabi yakni Yehezkiel.

Karya agung Allah senantiasa Ia perlihatkan kepada manusia dengan mengutus Puteranya menjadi manusia dan mengajar dengan penuh kuasa sehingga membuat jemaat takjub mendengar pengajaranNya. Meskipun demikian, mereka yang mendengar pengajaran Yesus mempertanyakan hal itu dikarenakan Yesus bukan keturunan Imam Harun atau kaum Lewi melainkan hanya seorang tukang kayu, anak Maria. Pada akhirnya mereka kecewa dan menolak Dia. Penolakan terjadi karena apa yang dilakukan oleh Yesus tidak seharusnya Ia lakukan sebagai seorang anak tukang kayu. Penolakan tersebut membuat Yesus tidak mengadakan satu mukjizat pun di sana. Hal itu juga sering kita alami saat kita meragukan kualitas seseorang karena melihat latar belakang keluarga, status sosial, ekonomi. Pada akhirnya kita menutup karya agung dan mulia Allah melalui orang-orang yang kita pandang rendah meskipun telah melakukan banyak aksi nyata yang mengagumkan.

Hidup yang hanya mengejar status dan menilai seseorang berdasarkan statusnya akan membuat kita tidak akan melihat karya-karya Tuhan yang agung dan mulia, melainkan menjadi pemberontrak seperti Bangsa Israel atau kecewa dan menolak Yesus seperti yang dilakukan orang-orang sekampungnya. Oleh karena itu, biarkanlah hidup kita dituntun oleh penyelenggaraan ilahi dengan merendahkan diri dan senantiasa mencukupkan kasih karunia Allah di dalam hidup, agar supaya kita dapat berseru seperti Rasul Paulus, “Aku lebih suka bermegah atas kelemahanku, agar kuasa Kristus turun menaungiku”.

(Fr. Dkn. Gregorius Legi)

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah  kuasa-Ku menjadi sempurna”

(2 Kor 12:9b).

Marilah berdoa:

Ya Allah Bapa Yang Mahakuasa, anugerahkanlah kepada kami hati untuk mendengar sabda-Mu dan percaya kepada-Mu. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini