Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (P)
Kel.24:3-8; Ibr.9:11-15; Mzm. 116:12-14, 15-16, 17-18; Mrk. 14:12-16,22-26
Menumpahkan darah sama seperti mengorbankan nyawa. Tindakan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki nyali serta semangat kasih dan pengorbanan diri yang besar. Benarlah jika Yesus Sang Guru berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seseorang yang memberikan nyawaNya untuk sahabat-sahabatNya”. Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, kita mendapatkan teladan dari Allah sendiri yang menjadikan hidupNya sebagai kurban keselamatan.
Melalui perantaran Nabi Musa, Allah membuat perjanjian dengan bangsa Isreal yang ditandai dengan “darah anak domba”. Selain sebagai korban keselamatan, Musa juga menyiramkan darah lembu jantan itu pada bangsa Israel sebagai darah perjanjian mereka dengan Tuhan (Kel. 24:4b-8).-Perjanjian Allah dengan umatNya mendapat kepenuhannya dalam diri Kristus. Perjanjian itu tidak lagi ditandai dengan darah anak domba atau korban bakaran, melainkan dengan PuteraNya sendiri sebagai anak domba yang dikurbankan. Kitab Ibrani mengisahkan dengan sempurna bagaimana Kritus yang datang sebagai Imam Besar, masuk satu kali untuk selamanya ke tempat kudus bukan dengan membawa darah anak domba, melainkan darahNya sendiri.
Kurban Kristus itu ditegaskan lagi oleh penginjil Markus. Dikatakan bahwa pada perjamuan malam terakhir, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu berkata, “Ambillah, inilah tubuhKu. Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur dan memberikannya kepada mereka seraya berkata, “Inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.”
Keteladan Kristus ditunjukkan melalui pengorbanan diriNya kepada umat manusia. Tuhan menyelamatkan manusia dari dosa bukan dengan mengorbankan salah satu dari ciptaanNya, melainkan menyerahkan PuteraNya sendiri sebagai kurban untuk keselamatan dunia. Kritus yang setara dengan Allah tidak menganggap kesetaraan itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan rela merendahkan dan mengorbankan diriNya dan taat sampai mati di kayu salib. Itulah tanda cinta.
Inilah pengorbanan atau pemberian diri Kristus yang selalu kita dikenangkan dan dirayakan dalam Ekaristi Kudus. Di sana Tuhan menyerahkan tubuh dan darahNya untuk disantap. Bahkan Ia meyakinkan kita bahwa setiap orang beriman yang makan dan minum dari tubuh dan darahNya mempunyai hidup sejati. Siapa saja yang makan tubuhNya dan minum darahNya akan hidup untuk selamanya (Yoh. 6:54).
Demikian Kurban Kristus yang dikenangkan dan dirayakan dalam Ekaristi, mengumpulkan kita sebagai satu keluarga di dalam Kritus. Ekaristi adalah perayaan persaudaraan. Melalui dan di dalam Ekaristi kita menimba persekutuan antara kita dengan Kristus dan sesama. Kita percaya bahwa persekutuan yang kita kita bangun di dunia ini akan terbentuk pula di surga. Di sana kita akan makan satu meja dengan Kristus yang bangkit dalam perjamuanNya yang kudus dan abadi.
(Pst. Andy Sainyakit, Pr)
“Inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang” (Mrk. 14:24).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, berilah kami hati yang tulus agar kami dapat mengorbankan diri bagi sesama. Amin.












Saya pengguna Lentera Jiwa. Setiap minggu saya harus mencari renungan untuk ibadah. Renungan Lentera Jiwa sangat membantu saya dalam mempersiapkan khotbah untuk Ibadah sabda di gereja