“HARUS ADA OUTPUT” : Renungan, Minggu 30 Juni 2024

0
899

Hari Minggu Biasa XIII (H)

Keb. 1:13-15;2:23-24; Mzm. 30:2,4,5-6,11,12a,13b; 2Kor 8:7,9,13-15; Mrk. 5:21-43.

Ada saat menerima, ada saat pula untuk memberi. Dua hal ini sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, lewat pernafasan. Manusia menghirup oksigen (O2) dan melepaskan karbon dioksida (CO2). Manusia akan mati kalau dia hanya menghirup tanpa melepaskan; atau melepaskan tanpa menghirup. Begitu juga dengan iman. Manusia tidak hanya menerima (input) rahmat, tatapi juga membagi rahmat (output).

Injil hari ini menampilkan dua cerita penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Pertama, putri Yairus yang sakit keras dan hampir meninggal. Meskipun sudah terlambat menurut pandangan manusia, Yairus dengan iman dan kerendahan hati datang kepada Yesus dan memohon agar anaknya disembuhkan. Yesus pun pergi menyembuhkan dan menghidupkan kembali anak itu dari kematiannya. Kedua, seorang perempuan memperoleh penyembuhan ketika menjamah jubah Yesus.

Dua cerita ini menunjukkan bahwa kasih Allah bagi manusia tak berkesudahan. RahmatNya terus mengalir tanpa henti. Selaras dengan itu, Rasul Paulus mengajak jemaat di Korintus untuk saling berbagi kasih satu dengan yang lain. Sama seperti Allah mengasihi manusia, demikian pula manusia harus saling mengasihi. Bukan hanya menjadi penerima (input) berkat, tetapi juga menjadi penyalur (output) berkat bagi sesama.

Suka menerima dan menolak untuk memberi adalah penyakit manusia dewasa ini. Manusia hanya hidup untuk dirinya sendiri. Tak pernah ada lagi solidaritas dan kepedulian sosial. “Kebahagiaanku adalah yang utama, yang lain dari belakang”. Sungguh menyayangkan sekali bahwa budaya egoisme lebih kuat daripada budaya kasih. Kita tak menyadari bahwa penyakit dan dosa kitalah yang ditanggung oleh Yesus. Sifat lupa diri ini menjerumuskan kita ke dalam perangkap keangkuhan dan persaingan yang tak berujung. Kiranya dua kisah penyembuhan dalam Injil dan nasihat Rasul Paulus hari ini mengingatkan kita bahwa rahmat yang kita terima bermuara dari Allah dan harus dialirkan untuk saling mencukupkan kekurangan satu dengan yang lain. Rahmat itu tidak boleh ditampung untuk kemuliaan diri sendiri tetapi dibagikan demi keseimbangan hidup semua orang. Di luar sana ada banyak yang lapar, sakit dan menderita. Masihkah kita punya niat untuk berbagi dengan mereka?

(Fr. Hillarius Manaan)

           “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan” (2Kor. 8:14)

Marilah berdoa:

Ya Allah sumber kasih dan rahmat, semoga kami mampu membaktikan diri bagi sesama kami seperti Engkau yang tak pernah berhenti mengasihi kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini