“MAU MASUK SURGA?”: Renungan, Rabu 29 Mei 2024

0
613

Hari Biasa (H)

 BcE 1Ptr 1:18-25; Mzm 147:12-13.14-15. 19-20; Mrk. 10: 32-45.

Setiap orang memiliki harapan untuk hidup berbahagia dan memperoleh tempat yang layak di sisi Tuhan. Dalam usaha pencarian itu, ada orang yang hidup baik dalam memberikan dirinya untuk pelayanan dengan tenaga, berderma, dan taat pada perintah Tuhan. Namun ada pun orang yang hanya diam dan tak mengambil tindakan yang nyata dalam kehidupan, sedangkan ia mengharapkan hidup yang terbaik bagi dirinya.

Saudara yang terkasih, bacaan-bacaan hari ini mengingatkan kita akan keseimbangan paripurna antara keinginan dan usaha. Injil Markus mengisahkan bahwa Yesus hadir bersama murid-Nya. Dalam keadaan yang cemas dalam perjalanan ke Yerusalem, terjadi suatu keadaan yang tidak baik. Di antara para murid-Nya ada yang menginginkan agar mereka mendapat tempat yang layak di dalam Kerajaan Surga, yaitu duduk di sebelah Yesus. Mendengar permintaan tersebut, para murid yang lain menjadi marah. Yesus segera memanggil para muridNya dan memberikan peneguhan kepada mereka. Yesus menunjukkan bahwa seorang yang terbesar adalah mereka yang melakukan hal-hal sederhana di dunia. Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani sampai tuntas bagi tebusan untuk banyak orang.

Bacaan-bacaan hari ini memberikan tiga nilai yang bisa dipetik untuk kehidupan harian. Pertama, kita sebagai manusia menyadari bahwa kita semua berharga di mata Tuhan. Tuhan tidak sekalipun mengistimewakan seseorang. Semua manusia adalah sama kadarnya di mata Tuhan. Yang membuat ia spesial di mata Tuhan adalah tindakan pelayanannya, bukannya dispensasi karena status atau jabatan yang tinggi dalam pelayanan.

Kedua, Yesus menunjukkan bahwa harapan harus diimbangi dengan perbuatan. Mengharapkan hidup yang terbaik adalah hal yang harus direncanakan. Pengharapan tidak dapat lebih besar daripada usaha seseorang. Pengharapan harus diimbangi dengan usaha untuk dapat menjadi kenyataan, termasuk di dalamnya ialah pengharapan akan akhirat.

Ketiga, berbuat baik tanpa bersungut-sungut. Bersungut-sungut secara sepihak hanya menimbulkan masalah yang tak kunjung usai antara sesama. Bersungut-sungut akan suatu kebahagiaan bagaikan pungguk merindukan bulan. Dengan demikian, tujuan yang dicapai, seberapa besar atau kecilnya, hanya dapat dicapai dengan usaha dan kerja keras. Hidup bahagia di akhirat dapat ditempuh dengan pelayanan yang tulus dan ramah kepada sesama.

(Fr. Petrus Piterson Kussoy)

 “Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45).

Marilah berdoa:

Tuhan kami, ajarkanlah kami untuk membangun usaha demi kebahagiaan kami kelak. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini