“EMAS DI UJUNG CEMETI”: Renungan, Selasa 7 Mei 2024

0
1050

Hari Biasa Pekan Paskah VI (P)

Kis. 16:22-34; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,7c-8; Yoh. 16:5-11

Sewaktu kecil, saya pernah menderita sakit demam berdarah. Dalam keadaan itu, ibu menyuruh saya untuk menghabiskan sesuatu berupa cairan yang berguna untuk menaikkan terombosit saya. Saya benar-benar tidak tahan dengan rasa dari cairan itu. Namun semakin besar upaya saya untuk menolaknya, semakin besar pula upaya ibu untuk memberi saya cairan itu. Pada akhirnya saya menyerah dan meminum cairan itu dengan terpaksa. Setelah menghabiskannya, saya hampir muntah karena rasanya sangat tidak enak. Kira-kira 6 jam setelah saya meminumnya, dokter datang untuk mengambil sample darah saya. Setelah diperiksa, dokter memberitahu bahwa terombosit saya sudah naik dengan cepat. Akhirnya 2 hari setelah meminum obat itu, saya sudah diijinkan untuk pulang ke rumah.

Saudara yang terkasih, bacaan pertama mengisahkan tentang seorang kepala penjara yang menerima karunia setelah “musibah” menerpa. Pada waktu tengah malam, tiba-tiba gempa bumi terjadi dan merobohkan tiang-tiang penjara tempat Paulus dan Silas ditahan. Ketika kepala penjara melihat keadaan penjara-penjara yang terbuka, ia mengira bahwa tahanan-tahanan telah melarikan diri, khususnya Paulus dan Silas. Musibah ini membuat ia ingin melakukan bunuh diri karena tak tahan dengan pertanggung jawaban yang akan dikenakan kepadanya. Namun Paulus kemudian menghentikan tindakannya itu. Sentak kepala penjara menghentikan tindakannya dan berlari kepada Paulus sambil tersungkur. Ia pun membawa Paulus dan Silas ke rumahnya dan memberi diri dibaptis bersama sekeluarganya.

Bacaan Injil mengisahkan tentang datangnya Roh Kudus setelah kepergian Yesus. Ketika Yesus berkata bahwa Ia akan meninggalkan mereka, dukacita sentak melipur di dalam kepala para murid. Dukacita ini dikarenakan Tuhan akan segera meninggalkan mereka. Namun kemudian Yesus berkata bahwa setelah kepergian-Nya, Roh Kudus akan datang untuk menghibur mereka.

Kedua bacaan di atas menunjukkan bahwa terkadang kebaikkan Tuhan datang melalui cara yang tidak mengenakkan hati kita. Jalan yang dipakai Tuhan terkadang tidak seindah berkat yang dijanjikanNya. Dalam keseharian, tak jarang kita menemui tantangan yang penuh pergolakkan sehingga membuat kita ingin menyerah untuk berjuang. Perhatian kita seolah terfokus pada masalah yang berat sehingga kita lupa bahwa berkat Tuhan yang luar biasa terdapat di balik kesusahan yang menimpa.

Saudara terkasih, hari ini Tuhan mengingatkan kita bahwa di balik derita yang dialami hari ini, terdapat sukacita di hari esok. Kesusahan di hari ini tidak sebanding dengan besarnya pertolongan yang menanti. Tuhan mengajarkan kita bahwa di balik sakitnya cambuk hari ini, pasti ada emas untuk hari esok.

(Fr. Richie Sumampouw)

“Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita”. (Yoh. 16:6)

Marilah Berdoa:

Tuhan, mampukanlah kami untuk bisa menanti indahnya rahmatMu di hari esok. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini