‘’MENUNGGU SAATNYA’’: Renungan, Senin 22 April 2024

0
730

Hari Biasa Pekan IV Paskah (P).

 BcE Kis. 11:1-18; Mzm. 42:2-3; 43:3,4; Yoh. 10:1-10

Hidup Manusia selalu dihadapkan dengan berbagai macam pilihan. Pilihan begitu lekat maknanya dengan keputusan. Hidup sehari-hari manusia bergantung pada pilihan. Contoh konkrit misalnya, penentuan saat yang tepat untuk menanam sesuatu hingga saatnya panen. Atau dalam perjalanan kita pasti akan melihat perkiraan cuaca untuk menentukan perjalanan kita di darat, laut ataupun udara. Lebih tepatnya manusia mendambakan supaya selalu datang momen yang tepat dalam hidupnya.

Dalam bacaan hari Yesus memberikan dua perumpamaan: Pertama, Ia mengibaratkan diri-Nya sebagai pintu bagi kandang domba-domba. Kedua,  Ia memposisikan diri sebagai gembala bagi domba-domba tersebut.  Kedua perumpamaan itu awalnya diungkapkan Yesus ketika Ia berbicara tentang orang yang masuk kandang domba dengan memanjat tembok dan karenanya dianggap pencuri, sedangkan yang masuk melalui pintu dianggap sebagai gembala yang dikenal para domba. Berdasar pada ungkapan tersebut Yesus membawa kita untuk menentukan mana yang terbaik dalam kehidupan kita. Jika diposisikan sebagai domba, kita awalnya didatangi seorang perampok dan tidak menutup kemungkinan panggilannya bisa mengarahkan kita pada kebinasaan  berbeda dengan gembala yang memanggil dan mengarahkan kita ke padang rumput.

Dalam hidup kita kadang memutuskan sesuatu dengan cepat tanpa berpikir lama. Kita tidak menganggap bahwa hidup kita bergantung juga pada sebuah pilihan apa itu baik maupun jahat. Sangat disayangkan banyak orang yang tidak dengan sabar menentukan sesuatu bagi dirinya. Mereka hanya berpikir akan hasil yang lebih cepat mereka dapatkan. Nyatanya, mereka mendapat hasil yang tidak sesuai karena momen yang tidak tepat.

Yang harus kita putuskan adalah menunggu saat yang tepat, misalnya dengan membenahi diri kita dan tidak terlalu cepat menghibur diri atau sekedar berambisi untuk mendahului yang lain hingga hasil yang didapatkan belum matang sepenuhnya. Apa yang Yesus gambarkan tentang diri-Nya merupakan kebahagiaan sejati. Melalui kebangkitan-Nya, Ia menjadi pintu keselamatan bagi kita dan arahan-Nya sebagai gembala itu merupakan tujuan yang baik karena kita akan menikmati sesuatu yang sempurna karena Ia telah menentukan momen yang tepat untuk kita nikmati nanti.

Fr. Nemesio Runtu

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat” (Yoh. 10:9a)

 Marilah berdoa :

Ya Tuhan, semoga arahan-Mu membuat kami selalu memutuskan sesuatu yang tepat. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini