“SIKAP KERENDAHAN HATI”: Renungan, Sabtu 9 Maret 2024

0
561

Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U)

Hos. 6:1-6; Mzm. 51:3-4,18-19,20-21ab; Luk. 18:9-14

Dewasa ini kita seringkali berjumpa dengan orang-orang yang sombong, bahkan mungkin saja kita juga sering menyombongkan diri kita. Orang menjadi sombong, karena dia merasa telah melakukan suatu pencapaian yang luar biasa dalam dirinya dan menganggap orang lain tidak bisa sama sepertinya. Kesombongan diri merupakan salah satu sikap yang tidak terpuji. Sebab dengan kesombongan diri, kita lebih condong untuk meninggikan diri sendiri di hadapan orang lain.

Kesombongan diri membuat kita merasa berkuasa, tanpa menghargai keberadaan orang lain. Orang lain sering dibanding-bandingkan dengan diri kita dan kita menganggap mereka tak ada apa-apanya di hadapan kita. Bahkan seringkali kita menjadikan orang lain sebagai bahan olok-olokan. Sebagai pengikut Kristus, sikap sombong ini bukanlah sikap orang beriman. Lantas, kita bertanya sikap apa yang pantas kita lakukan sebagai orang beriman? Jawabannya adalah sikap rendah hati.

Injil hari ini mengisahkan tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi dan pemungut cukai adalah dua pribadi yang berbeda. Orang Farisi dipandang sebagai orang yang saleh dan benar. Sedangkan pemungut cukai dipandang sebagai orang yang berdosa. Orang Farisi menganggap dirinya sebagai pribadi yang benar dan saleh, maka ia bersikap sombong. Hal itu tampak dalam doanya. Sedangkan pemungut cukai adalah seorang pribadi yang sangat berbeda dengan orang Farisi. Ia merasa bahwa ia tidak layak berdiri di hadapan Tuhan, maka ia berdiri jauh-jauh dan memukuli dirinya sambil berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini (Luk. 18:13b).

Bacaan Injil ini menggambarkan dengan jelas sikap mana yang patut dicontohi oleh para pengikut Kristus. Sikap yang patut dicontohi adalah sikap dari pemungut cukai tersebut. Pemungut cukai itu sadar bahwa dia adalah orang berdosa dan dia tidak layak berada di hadapan Tuhan. Sehingga, ia berdoa kepada Tuhan dengan menyesali segala perbuatannya dan dengan rendah hati meminta Tuhan untuk mengampuninya. Inilah sikap yang harus dihidupi oleh kaum beriman.

Kita semua diminta untuk dapat mencontohi pribadi dari pemungut cukai yang memiliki sikap kerendahan hati. Bukan mencontohi sikap dari pemungut cukai tersebut. Sebab, kita harus sadar bahwa kita dibenarkan oleh Allah bukan karena perbuatan dan tindakan kita melainkan Kasih Allah kepada kita manusia. Bersikaplah rendah hati, karena kesmbongan diri sama sekali tak ada gunanya.

Fr. Soleman Kelbulan

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 18:14).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, jadikanlah aku pribadi yang rendah hati. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini