“AKU ADA SEBELUM ABRAHAM”: Renungan, Kamis 21 Maret 2024

0
610

Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U)

BcE Kej. 17:3-9; Mzm. 105:4-5,6-7,8-9; Yoh. 8:51-59

Pengenalan akan sesuatu sering kali ditafsirkan berbeda oleh sebagian orang. Ada orang yang memiliki kemampuan menafsir secara bijak dan benar, tetapi juga ada orang yang menafsir secara berbeda dan keliru. Alhasil, terjadi konflik dan perpecahan. Bacaan-bacaan hari ini menunjukkan pertentangan akan pernyataan Allah tentang kehadiran-Nya. Orang-orang Yahudi menganggap Abraham sebagai yang terbesar dari segala yang ada, sedangkan pengenalan akan Allah dipandang sebatas yang dirasuki setan dan belum dewasa karena belum cukup umur.

Apakah Abraham ada sebelum Allah? Penginjil Yohanes menggambarkan dengan sangat baik keberadaan Allah yang ada sejak semula: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh. 8:58). Perkataan ini menunjukkan pengungkapan jati diri Allah sebagai yang pertama ada dari segala yang ada, bahwa Dialah yang menjadikan segala sesuatu termasuk Abraham, karena segala yang ada berasal dari pada-Nya.

Kitab Kejadian juga menggambarkan relasi Abraham dengan Allah melalui perjanjian-perjanjian: “Aku akan mengadakan perjanjian-perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allah-Mu dan Allah keturunan-Mu” (Kej. 17:7). Ungkapan ini menunjukkan posisi Allah sebagai yang berkuasa dan meraja. Ia mengadakan perjanjian dengan Abraham sebagai bentuk kepedulian-Nya terhadap ciptaan-Nya. Ia menginginkan agar semua orang diselamatkan dan bersatu dengan Dia sebagai sumber segala asal. Untuk itulah, Ia mengadakan perjanjian dengan Abraham sebagai ungkapan kasih-Nya bagi manusia.

Dalam kehidupan bersama sering kali kita memposisikan keberadaan kita seperti orang-orang Yahudi, bahkan meragukan iman kita kepada Allah. Pengenalan akan kehadiran-Nya sering kita abaikan demi kepentingan lainnya. Kita sering menilai kebaikan Allah hanya sebatas mujizat besar yang kita alami. Apa gunanya hidup jika tidak ada Tuhan?

Sebagai orang yang percaya hendaklah kita menyadari iman yang telah kita bawa sejak semula. Iman itulah yang menjadikan kita ada sampai detik ini. Iman itu juga yang telah mempersatukan kita. Carilah Dia dan berserulah dalam Dia. Yakinlah bahwa Ia selalu dekat dengan kita dan siap mendengar doa-doa kita. Dengan demikian kita akan diberkati dan memperoleh rahmat yang berlimpah.

Fr. Ubaldus Melsasail

“Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! Dialah Tuhan, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, yang diikat-Nya dengan Abraham” (Mzm. 105: 4-9).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk selalu mengenal Engkau. Mampukanlah kami untuk selalu dekat dan berpegang kepada-Mu sebagai sumber penyelamat kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini