“TAKARAN PENGHAKIMAN” : Renungan, Senin 26 Februari 2024

0
718

Hari Biasa Pekan II Prapaskah

BcE Dan. 9:4b-10; Mzm. 79:8,9,11,13; Luk. 6:36-38c

Sikap setiap orang dalam menghakimi sering kali terjadi dalam hidup sehari-hari. Hal demikian bisa saja terjadi karena adanya unsur kesengajaan maupun ketidaksengajaan yang dilakukan tanpa melihat bagaimana perasaan orang lain. Menghakimi terjadi dari hal-hal kecil yang dialami dalam pengalaman. Bahkan tidak heran jika sering kali manusia terjerat oleh ancaman-ancaman yang membahayakan dengan berbagai indikasi persoalan yang mungkin tidak dapat diselesaikan. Lantas apa yang sebenarnya menjadi kebiasaan manusia sehingga dalam kehidupannya selalu menghakimi sesamanya?

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini menjelaskan dan menegaskan kepada kita akan arti penghakiman itu sendiri. Yesus hendak menyampaikan, “Jangan saling menghakimi dan kamu pun tidak dihakimi”. Yesus mengajarkan perihal menghakimi sebagai suatu tindakan yang tidak pantas untuk dilakukan kepada orang lain. Atas dasar itu, kemurahan hati dan pengampunanlah yang kemudian menjadi tolok ukur untuk keluar dari keinginan untuk menghakimi sesama.

Tindakan dan ajaran Yesus ini semata-mata hanya karena ingin melihat setiap makhluk ciptaan-Nya memperoleh suka cita dan saling mengasihi sesama. Jika dilihat dalam hidup sehari-hari, tidak banyak dari kita yang bisa mengampuni kesalahan orang lain, apa lagi ketika orang itu melakukan sesuatu yang salah di mata kita. Hal pertama yang akan dilakukan ialah menghakiminya sebagai pribadi yang bersalah. Kita harusnya sadar bahwa di balik perbuatan menghakimi sesama, sebenarnya kita sudah mulai menentang apa yang Tuhan inginkan yaitu berbelaskasih sebagaimana Tuhan memberikan contoh dan teladan kepada kita dalam bacaan Injil hari ini, yaitu agar kita saling mengampuni dan mengasihi semua orang tanpa terkecuali.

Dalam masa prapaskah ini pula, kita diajak untuk membangun relasi antara teman, keluarga, dan sahabat atau kerabat kenalan kita. Sikap menghakimi seharusnya telah berakhir dengan adanya pembaharuan diri sambil mengedepankan kasih, sama seperti ajaran Yesus dalam Kitab Suci. Ia mengajak kita agar tidak lagi mengunakan ukuran yang kita pakai untuk menilai sesama, melainkan menggunakan kasih sebagai tolak ukur atas semua orang di sekitar. Oleh karena itu, bacaan hari ini mengisyaratkan sebuah pertanyaan refleksi untuk membantu kita keluar dari persoalan-persoalan atau pergumulan setiap hari. Permenungannya ialah “Apakah kita sudah mampu mengesampingkan atau membuang sikap ego dan menghakimi sesama?

Fr. Johanis Laritmas

 “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi” (Luk. 6:37).

Marilah berdoa:

Ya Allah, kuatkan hati kami dalam mengasihi dan tidak menghakimi sesama. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini