“SETIA DAN TAAT”: Renugan, Sabtu 24 Februari 2024

0
1025

Hari biasa pekan I Prapaskah (U)

BcE.UI.26:16-19,Mzm.119:1-2,4-5,7-8,Mat.5:43-48

Pada pekan prapaskah yang pertama ini, dalam Kitab Ulangan kita dengar kutipan yang berbunyi: “Lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu”. Pernyataan ini menunjukkan suatu ajakan biblis bagi kita untuk melakukan sebuah misi dari Allah. Misi penting yang kita terima ialah hendaknya kita taat pada tugas yang diberikan Allah kepada kita.

Ketaatan merupakan hal yang sangat penting. Kata “melakukan semuanya dengan setia” berhubungan dengan perintah untuk melakukan ketetapan dan peraturan. Karena tentunya ialah kesetiaan diperlukan bagi setiap orang untuk mencapai suatu kebaikan bagi sesama di sekitar. Apabila kita tidak setia dalam perbuatan baik sehari-hari, maka kita akan jatuh di tengah jalan. Namun dalam melakukan sesuatu, ketaatan saja tidak cukup. Semuanya itu harus dari keinginan diri sendiri. Keinginan itu nampak dalam penyerahan diri secara total pada kehendak Allah serta perintah-Nya yang sedang kita kerjakan dalam hidup sehari-hari.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus dalam salah satu khotbahnya di bukit di depan para murid memberikan pengajaran tentang kasih. “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu, tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan doakanlah mereka yang menganiaya kamu”. Dalam kutipan ini, Yesus menginginkan para murid menghidupi kasih itu secara benar. Sikap ini nampak dalam kehidupan bersama orang di sekitar. Sikap untuk mengasihi hendaknya dibangun setiap saat secara total, tanpa adanya perhitungan dengan balasan yang kita terima.

Sikap mengasihi dimengerti bukan hanya untuk mereka yang seiman tetapi juga yang tidak seiman dengan kita. Kasih yang kita berikan seyogyanya tidak dibeda-bedakan antara orang yang bersalah atau orang yang membawa berkat bagi kehidupan kita. Kasih para murid harus seperti kasih Bapa sendiri yang memberikan kehidupan kepada kita sebagai orang yang benar dan orang yang tidak benar. Dengan demikian, kasih yang kita bangun bukan soal untuk memperoleh jabatan, kekuasaan dan lain-lain, melainkan kasih itu didasarkan atas sikap batin yang dianugerahkan Allah sendiri kepada kita. Kasih itu akan memampukan kita untuk melihat orang lain sebagai saudara. Kasih bagi sesama akan membangun persaudaraan dan persaudaraan yang dibangun dalam kasih adalah persaudaraan yang takkan terpisah selamanya.

Fr. Cristian A M Remetwa

 

 

 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44).

Marilah berdoa:

Tuhan, mampukanlah kami untuk dapat setia dan taat dalam menjalani semua perintahMu. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini