Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U)
BcE, Yer. 18:18-20, Mzm. 31:5-6,14,15-16, Mat. 20:17-28
Pelayanan membutuhkan sikap pengurbanan yang total. Menjadi seorang pelayan untuk mewartakan sabda berarti siap untuk berkurban. Hal yang serupa dialami oleh Nabi Yeremia. Pewartaannya kepada orang Israel membawa dampak yang kurang baik bagi dirinya. Ia dimusuhi oleh orang Israel, tetapi ia tetap mendoakan mereka supaya murka Allah tidak menimpa orang Israel. Hal itu berarti segala kepentingan pribadi, harga diri bahkan nyawa sekalipun siap dipertaruhkan. Menurut ukuran manusia, hal seperti ini memang sangat sukar untuk dilaksanakan. Untuk apa berkurban, jikalau kesesengsaraan dan kesialan harus diterima?
Yesus mengajarkan kepada kita tentang pengurbanan dalam Injil hari ini. Pengurbanan menurut Yesus adalah menjadi pelayan. Ketika seseorang ingin menjadi besar dalam arti menjadi pemimpin, ia hendaknya menjadi pelayan. Para murid tidak diajarkan menjadi pemimpin yang berjiwa otoriter, yaitu menjalankan kuasa kepemimpinannya dengan keras dan bertindak dengan kasar terhadap bawahannya. Kepemimpinan yang diajarkan Yesus adalah kepemimpinan berjiwa pelayanan terhadap sesamanya. Sikap yang diajarkan-Nya pun dibawa oleh Yesus dalam pelaksanaan harian-Nya. Yesus tidak hanya mengajarkan, tetapi Ia sendiri melaksanakannya. Yesus tahu bahwa kurban yang Ia wartakan itu kelak akan dialami-Nya.
Berkurban adalah suatu tindakan yang sulit dilaksanakan oleh manusia pada masa sekarang. Banyak orang, karena mengutamakan kepentingan pribadi dan tidak mau martabatnya dijatuhkan, tidak mau berkurban untuk orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Pemimpin yang seharusnya bekerja untuk rakyatnya menghindarkan diri dari aspek pengurbanan. Alhasil pengorbanan menjadi sesuatu yang mahal harganya bagi kita.
Bacaan-bacaan hari ini memanggil kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang siap untuk berkurban bagi sesama kita. Dalam pelayanan yang diberikan, kita diingatkan untuk menjadi orang yang siap dan mau direpotkan oleh orang lain. Ada banyak orang yang membutuhkan bantuan dan pertolongan kita, entah karena kesulitan makanan ataupun bahkan karena mereka kekurangan dalam hal rohani. Kita diajak untuk boleh belajar dari Yesus dan nabi Yeremia tentang pengurbanan. Yesus tidak lari atau menghindar dari kurban yang akan dialami-Nya. Yesus mengajarkan hal itu supaya kita umat-Nya yang beriman kepada-Nya siap dan mau berkurban. Begitu juga nabi Yeremia mengajarkan supaya kita berkurban walaupun harga diri kita terabaikan. Kita tidak perlu takut akan kesengsaraan yang akan dihadapi, tetapi kita semestinya takut jikalau kita tidak mau berkurban seperti yang diajarkan Yesus.
Fr. Arnoldus Lopi
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 20:26).
Marilah berdoa:
Tuhan, mampukanlah aku untuk boleh berkurban bagi sesama. Amin.











