“BIJAKSANA DALAM BERBELASKASIH”: Renungan, Sabtu 03 Februari 2024

0
986

Hari Biasa (H)

BcE 1Raj. 3:4-13; Mzm119:9,10,11,12,13,14; Mrk. 6:30-34

Seorang dokter ahli bedah baru saja menjalankan tugasnya, yang kebetulan mendapat jatah malam. Pada hari itu, dalam sehari menghabiskan waktunya di ruang operasi, karena banyaknya orang yang memerlukan bantuannya, karena dia adalah dokter beda terbaik di rumah sakit itu. Pada hari itu, ia melayani 8 orang pasien. Setelah ia selesai menjalankan tugasnya ia bergegas untuk beristirahat. Pada waktu yang sama, rumah sakit itu mendapat rujukan pasien yang mengalami kecelakaan dan tidak sadarkan diri. Melihat itu, dokter yang hendak pulang ke rumah untuk beristirahat kembali ke ruang operasi, karena ia mengetahui orang itu lebih membutuhkan bantuannya dibanding rasa lelahnya.

Pada Bacaan pertama kita dapat melihat bahwa bagaimana raja Salomo meminta hikmat dari Allah saat dia masih muda dan tidak berpengalaman. Ini menunjukkan kerendahan hati Salomo dan kebijaksanaannya. Salomo memahami bahwa tugasnya sebagai pemimpin memerlukan kebijaksanaan dan ia mencari dan meminta itu dari sumbernya yaitu Tuhan. Dan bacaan Injil yang hari ini menunjukkan kasih Yesus yang besar. Ketika Yesus dan para murid-Nya hendak mencari tempat sepi untuk beristirahat setelah melayani banyak orang. Orang-orang banyak itu kembali datang menghampiri-Nya. Yesus oleh karena rasa belas kasih yang begitu besar Ia kembali memberi mereka makanan baik secara rohani maupun fisik. Ia tidak ingin meninggalkan mereka meskipun belum sempat beristirahat dan makan pada saat melakukan pengajaran sebelumnya kepada banyak orang.

Bacaan-bacaan hari ini hendak menegaskan kepada kita bahwa betapa penting untuk menjadi bijaksana dan berbelas kasih. Kita diajak untuk mengenakan pakaian kebijksanaan. Layaknya Salomo, kita disadarkan untuk tidak mengandalkan kebijaksanaan kita sendiri. Kita memerlukan hikmat dan petunjuk dari Tuhan. Karena sesungguhnya kebijaksanaan kita sebagai manusia itu terbatas dan dapat dipengaruhi oleh emosi yang terkadang tidak mampu kita kuasai yang dapat berefek pada pengambilan keputusan yang salah. Berbeda dengan kebijaksaan yang kita peroleh dari Allah. Bahwa Dia adalah sumber segala kebenaran dan kebijaksanaan maka kita akan mendapatkan keputusan yang benar. Dan dari kisah Yesus pada hai ini, kita kembali diingatkan untuk mengenakan identitas kita sebagai orang Kristen yaitu kasih. Bahwa kasih adalah hukum terutama bagi kita. Terkadang kita mungkin merasa lelah dengan keadaan kita dan ingin beristirahat. Akan tetapi jangan lupa dengan prioritas kita untuk terus melayani dan membantu orang lain. Karena jika dalam lelah kita tetap melayani maka sungguh bahwa kita tidak melepaskan sehelai identitas kasih kita dan menunjukkan jati diri pengikut Kristus yang sejati.

Fr. Givilier Tethool

“Maka Ia keluar dan melihat banyak orang, lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, sebab mereka seperti domba yang tidak ada gembala.” (Mrk 6:34)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Allah kami, berilah kami kebijaksanaan dan jadikan hati kami seperti hatimu. Amin

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini