“BAPTIS TANDA KESELAMATAN”: Renungan, Senin 8 Januari 2024

0
8922

Pesta Pembaptisan Tuhan (P)

BcE Yes. 55:1-11, MT; Yes. 12:2-3,4bcd, 5-6; 1Yoh. 5:5-19; Mrk.1:7-11.

Setiap dari kita memiliki ceritanya sendiri-sendiri bagaimana sampai kita dibaptis. Ada yang dibaptis sejak bayi, namun ada pula yang dibaptis setelah remaja ataupun dewasa. Ada yang dibaptis tanpa tantangan yang berarti, namun ada pula yang harus bersusah payah dalam masa persiapan sebelum pembaptisan; entah karena tidak didukung keluarga ataupun karena tantangan lainnya. Tetapi, setelah kita semua dibaptis, apakah kita sungguh-sungguh telah menghayati makna baptisan itu? Ataukah kita hanya menyadarinya sebagai bentuk penerimaan secara seremonial supaya kita diakui terdaftar sebagai anggota Gereja?

Setelah merayakan hari di mana Allah menampakkan diri sebagai manusia seperti kita, pada hari ini kita pun merayakan Tuhan Yesus yang sebagai manusia dibaptis. Pada saat dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan itulah Yesus yang diakui oleh Allah sebagai puteraNya. Apa yang dapat ditekankan dari peristiwa ini? Dalam Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa, baptisan menjadi tanda spiritual (rohani) yang tak terhapuskan. Sebab, kita telah disatukan ke dalam Kristus dan menjadi serupa dengan Dia (KGK 1272). Hal ini turut menjadi tanda kelahiran baru dan perlu bagi keselamatan seperti halnya Gereja sendiri (KGK 1277). Demikianlah pembaptisan membawa orang kepada iman yang luhur sebagai anak-anak Allah dan menandainya dalam materai keselamatan.

Dengan demikian, pembaptidan sebenarnya mengajak kita untuk menjadi orang-orang percaya. Pertama, seperti yang dikatakan oleh Nabi Yesaya dalam bacaan pertama, bahwa Allah akan menjamin hidup kita, hidup yang berkelimpahan. Allah mengasihi kita dan rancanganNya selalu indah untuk kita orang-orang yang percaya kepadaNya. Kedua, seperti Rasul Yohanes dalam bacaan kedua, kita percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang turun ke bumi sebagai tanda kasih Allah untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Dan yang ketiga, kita harus percaya seperti yang dikisahkan oleh penginjil Markus, bahwa Yesus adalah Anak kecintaan Allah, yang mengundang kita untuk hidup dalam kasih dan yang menjamin hidup kita.

Jadi, pesannya jelas. Seperti Yesus, kita telah menerima sakramen baptis. Dengan demikian, kita pun telah dijadikan sebagai anak-anak Allah serta menjadi ahli waris keselamatan. Oleh karena itu, marilah kita meneladan Kristus yang menggenapi kehendak Allah sehingga menjadi anak Allah yang dikasihi dan yang berkenan kepada Allah. Kita tinggalkan kefasikan kita, dan kita upayakan hidup yang bijaksana, adil dan bermartabat. Dengan hidup yang demikian, Allah pun akan berkata kepada kita: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan.”

(Fr. Jessel Bastian Supit)

“Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan”(Mrk. 1:11)

Marilah berdoa:

Ya Allah, kiranya baptisan yang telah kami terima menjadi tanda kasih yang menyelamatkan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini