“PILIHAN YANG BENAR”: Renungan, Rabu 17 Januari 2024

0
1144

Pw S. Antonius, Abas (P).

BcE 1Sam. 17:32-33,37,40-51; Mzm. 144:1,2,9-10; Mrk. 3:1-6.

Setiap insan di dunia ini memiliki komitmen dan prinsip hidup yang kadang susah dimengerti oleh orang lain yang ada di sekitarnya. Contoh dalam dunia kerja, seorang bos perusahan memiliki kuasa sepenuhnya untuk memimpin salah satu perusahannya, dan kepemimpinannya berdasar pada konsop, pemahaman, komitmen dan prinsip hidupnya. Ia memimpin dengan jujur, setia dan bijaksana dan mengutamakan kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan karayawan-karyawannya. Namun, pada suatu kesempatan, perusahannya mendapat kesempatan bekerja sama dengan salah satu perusahan ternama dan syaratnya harus terlaksana sesuai dengan target dan waktu yang disepakati. Maka sudah pasti karayawan-karyawannya harus bekerja lembur, dengan sekuat tenaga untuk memenuhi dan mencapai apa yang disepakati. Ketika ia diperhadapkan dengan situasi ini, ia sadar bahwa ia dipaksakan untuk memilih dan memutuskan yang terbaik. Apakah ia harus mempertahankan komitmen, prinsip hidupnya dan kesejahteraan karyawannya ? Ataukah mengabaikan semuanya dan mendapatkan popularitas dan kekayaan yang banyak?

Cerita di atas dan pertanyaan di akhir cerita ini, mengingatkan kita pada kisah Yesus yang diceritakan dalam Injil hari ini. Kata Yesus kepada mereka: ”Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk. 3: 4). Tentunya kita semua akan belajar dari Yesus yang memilih untuk menyembuhkan orang yang mati tangannya itu. Tetapi apakah kita melaksanakannya ataukah hanya sekedar kata-kata belaka yang keluar dari mulut kita? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus kita refleksikan bersama dan memilih dan memutuskan yang terbaik dan benar dalam hidup kita agar diri kita dan semua orang dapat memperoleh dan merasakan kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan dalam hidup ini dan memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal bersama dengan Allah di dalam kerajaan Surga.

Ketika kita melakukan kebaikan dan kebenaran, pasti ada saja orang-orang yang memiliki kebencian, marah, iri, kecewa dan bisa saja merencanakan kejahatan untuk melenyapkan kita. Melakukan kebaikan dan kebenaran memiliki resiko yang besar baik yang jahat maupun yang baik. Namun kita harus ingat bahwa kebaikan dan kebenaran yang kita miliki adalah kunci untuk memperoleh kebahagiaan kekal, keselamatan yang kita dambakan bersama. Jangan pernah takut dibenci, dimusuhi oleh orang lain, ingat bahwa Yesus juga mengalami hal demikian sebelum kita. Bahkan dikatakan dalam injil bahwa orang-orang Farisi bersekongkol dengan orang Herodian untuk membunuh Dia. Namun kita harus yakin dan percaya bahwa Allah akan selalu menyertai kita semua kapan saja dan di mana saja bahkan dalam saat-saat sulit sekalipun. Kita ingat akan kata-kata Saul kepada Daud:“Pergilah! Tuhan menyertai engkau” (1 Sam. 37). Tak ada yang mustahil di hadapan dan bagi Allah. Marilah kita wartakan kebaikan dan kebenaran dalam hidup kita. Pastikan bahwa hidup kita selalu ada dalam Yesus yang adalah kebenaran sejati.

Marselino Porajouw

“Pergilah! Tuhan menyertai engkau”(1 Sam. 37).

Marilah berdoa:

Ya Bapa yang Mahakasih, kuatkanlah kami untuk selalu bertahan dan memperjuangkan kebenaran dan kebaikan dalam hidup ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini