“KEGELAPAN DAN KEPUTUSASAAN”: Renungan, Selasa 30 Januari 2024

0
1297

Hari Biasa (H)

2Sam. 18:9-10,14b,24-25a,30 – 19:3; Mzm. 86:1-2,3-4,5-6; Mrk. 5:21-43

Non Scholae sed vitae discimus, demikian kata-kata yang pernah saya baca di kelas sewaktu saya berada di bangku sekolah kelas 8. Kata-kata ini berarti “Kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk kehidupan”. Kalimat ini hendak mengajak setiap orang untuk berlomba-lomba mempelajari sesuatu agar ia bisa mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan. Setiap orang yang sementara duduk di bangku pendidikan dipanggil untuk menarik hasil pembelajarannya ke ruang publik sehingga dapat menghasilkan daya guna bagi banyak orang. Meskipun banyak pelajar telah mengetahui petuah ini namun tidak serta merta mengundang perhatian yang cukup. Seluruh proses pembelajaran hanya diberdayagunakan agar ia bisa mendapatkan nilai yang bagus. Nilai akademik terasa lebih penting dari nilai kehidupan.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan perjalanan Yesus dalam melakukan mukjizat. Setelah Yesus menyeberang dan masih berada di tepi danau, seorang kepala rumah ibadat datang dan bermohon kepadaNya. Kepala rumah ibadat itu ingin agar Yesus menyembuhkan anaknya yang sementara sakit. Mendengar permohonannya, Yesus segera pergi dengan orang itu. Dalam perjalanan, ada seorang perempuan yang sementara sakit pendarahan menghampiri Yesus dan menjamah jubahNya dengan kepercayaan teguh. Ia tidak berpikir panjang atau berpikir sebuah kemustahilan akan Yesus yang diimaninya. Setelah mendengar banyak berita tentang Yesus, dia datang kepadaNya dengan harapan yang besar untuk mendapatkan kesembuhan. Setelah menjamah jubahnya, perempuan itu menjadi sembuh dari sakitnya.

Sebagai orang beriman, kita sudah lama mengenal Yesus. Ada yang telah mengenalNya selama 10 tahun, 20 tahun, bahkan ada yang lebih dari itu. Kita sudah mendengar kisah penyembuhan yang Yesus kerjakan dari waktu ke waktu, baik yang Ia kerjakan sendiri maupun melalui para utusanNya. Namun ketika kita berada dalam keadaan sakit, terkadang kita ragu untuk datang kepadaNya. Keraguan itu membuat kita berpaling dariNya. Seolah-olah kita telah terhimpit oleh keputusasaan dunia yang membuat kita tidak percaya kepadaNya. Harapan mulai sirna oleh karena banyaknya doa yang kita panjatkan namun belum ada satupun yang terkabulkan. Alhasil kita yang sedang sakit bukannya datang kepadaNya, melainkan semakin menjauhiNya.

Sama halnya dengan seorang perempuan yang sakit pendarahan itu, kita diminta untuk datang kepada Yesus. Ketika kita datang dengan iman yang teguh pasti kita akan mendapatkan kesembuhan dari padaNya. Imanmu menyelamatkanmu!

 

Fr. Richie Sumampouw

 “Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubahNya” (Mrk 5:27)

Marilah Berdoa:

Tuhan, singkirkanlah keputusasaan dan kegelapan hati dalam diriku. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini