“PEWARTA YANG RENDAH HATI” : Renungan, Minggu 17 Desember 2023

0
870

Hari Minggu Adven III (U)

Yes. 61:1-2a,10-11; MT Luk. 1:46-48,49-50,53-54; 1Tes. 5:16-24; Yoh. 1:6-8,19-28. BcO Yes 29:13-24

Kebanyakan orang ingin terlihat lebih dari orang lain. Mereka mulai menunjukkan kehebatan dirinya,  mulai dari prestasi dan pencapaiannya sehingga terlihat sangat hebat. Lebih dari itu, memamerkan barang-barang mewah juga adalah cara untuk menonjolkan diri. Semua ini adalah motif untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari orang lain. Ketika pujian telah dilontarkan, maka menebarkan senyuman yang merekah-rekah adalah respon yang terpancar dari semua pujian yang diberikan.

Salah satu sikap yang sering menonjol dari diri manusia adalah keinginan untuk mendapat pujian, selalu merasa diri paling benar dan selalu ingin diperhatikan. Sikap inilah yang sering membuat kita sulit untuk menunjukkan sifat kerendahan hati. Sikap kerendahan hati merupakan salah satu sikap yang bijak karena dengan kerendahan hati, orang menjadi tidak angkuh, tidak selalu merasa diri paling benar dan sempurna, dan senantiasa terbuka dengan masukan orang lain. Sikap kerendahan hati juga tidak membuat kita menjadi ‘rendahan’, melainkan membuat kita menjadi orang ‘baik’  karena berani mengakui kesalahan. Maka dengan demikian kita akan menjadi pribadi yang disegani banyak orang.

Sikap kerendahan hati yang ditunjukkan Yohanes Pembaptis menjadi pembelajaran penting bagi kehidupan kita. Semua orang memandang Yohanes sebagai orang yang besar karena pewartaan yang disampaikannya dan juga karena baptisannya kepada banyak orang yang membuat banyak pengikut Yohanes mengangapnya sebagai Mesias yang sedang mereka nanti-nantikan. Namun Sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh Yohanes tidak membuatnya terbuai dengan sebuah kehormatan, pujian dan kemuliaan tapi menyadari dirinya hanyalah ‘pelita’ untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan.  Yohanes menyadari bahwa tugasnya hanyalah untuk memancarkan secerca cayaha dari sumber cahaya yang sesungguhnya yaitu Kristus. Oleh karena itu ketika para imam dan beberapa orang Lewi datang dan bertanya kepada Yohanes secara tegas ia menjawab bahwa dia bukan Mesias tetapi hanya sebagai seorang yang sedang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Bahkan Yohanes menegaskan bahwa “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak”. Perlu diketahui di zaman Tuhan Yesus membuka tali kasut merupakan pekerjaan seorang hamba. Dari sini kita dapat belajar dari kata-kata Yohanes yang sangat merendahkan diri di hadapan Tuhan dan bahkan merasa tidak layak menjadi hamba Tuhan.

Sikap kerendahan hati Yohanes dapat menjadi teladan bagi kita sebagai orang beriman, sebab sikap rendah hati di hadapan Tuhan merupakan suatu sikap yang patut dimiliki oleh setiap orang beriman karena hanya dengan kerendahan hati maka kita akan selalu membutuhkan Tuhan dalam kehidupan kita, karena sadar bahwa kita adalah orang-orang yang lemah yang senantiasa membutuhkan Tuhan dalam kehidupan kita. Semoga di minggu adven yang ketiga ini kita dapat senantiasa menempatkan diri sebagai orang yang rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama sehingga kita akan selalu mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita. Inilah persiapan yang baik untuk menantikan Sang ‘Sumber Cahaya’ sesungguhnya yakni Yesus.

Fr. Jacklyn Mononimbar

“Yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak” (Yoh. 1:27).

Marilah berdoa:

Tuhan, berilah kami kerendahan hati seperti Yohanes Pembaptis  agar kami selalu mengandalkan-Mu dalam kehidupan kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini