“PERSIAPAN DIRI”: Renungan, Minggu, 10 Desember 2023

0
992

Hari Minggu Adven II (U)

Yes. 40:1-5, 9-11; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; 2Ptr. S3:8-14; Mrk. 1:1-8

Yohanes Pembaptis merupakan seorang tokoh yang sangat disegani. Dalam Injil Markus, dia diperkenalkan sebagai seorang penting yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan seseorang yang lebih besar darinya. Tentunya muncul pertanyaan, siapakah orang yang lebih penting dari orang yang penting ini? Seseorang itu ialah Yesus, Anak Allah. Secara masuk akal, orang yang mempersiapkan tentang kedatangan seseorang tentunya mengenal orang tersebut dan karena pengenalan tersebut dia dapat melakukan banyak hal dan secara bersungguh-sungguh menanti kedatangannya.

Penulis Markus memberikan penjelasan tentang suatu proses untuk mempersiapkan diri menyambut Anak Allah itu. Peristiwa kedatangan ini adalah peristiwa besar dalam sejarah umat manusia. Itulah sebabnya, manusia harus mempersiapkan secara baik dan pertobatan merupakan salah satu cara untuk mempersiapkan diri. Pertobatan mengantar seseorang pada kesiapan, kelayakkan dan kelegaan. Kesiapan, kelayakkan dan kelegaan itu merupakan konsekuensi dari pertobatan. Sebagai konsekuensi, tentunya ada hal yang menyebabkan sehingga konsekuensi itu dialami. Hal inilah yang disebut sebagai proses persiapan diri.

Bacaan-bacaan hari ini menunjukkan dua hal penting di mana kedua hal tersebut berbicara tentang berita yang melegakan dan berita yang menggembirakan tentang Yesus. Pertama, berita melegakan yang dibawa oleh Yesus adalah baptisan Roh Kudus dari Yesus sendiri, seperti yang dikatakan oleh Yohanes “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Dia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus (Mrk. 1:8). Hal ini membawa dampak besar bagi proses pertobatan seseorang. Kedua, berita yang menggembirakan tentang Yesus yang menunjukkan bahwa manusia tidak hanya menyambut kedatangan seorang anak manusia, melainkan Anak Allah sendiri.

Oleh sebab itu, sebagai bagian dari keluarga Allah, kita diajak untuk secara nyata mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan AnakNya. Secara nyata maksudnya, persiapan diri itu tidak hanya sampai pada suatu rencana belaka tetapi benar-benar terealisasi dalam diri dan kehidupan. Persiapan diri dapat terungkap dalam tindakan kita sehari-hari. Tindakan-tindakan itu yakni berdamai dengan diri dan menerima diri sendiri, memaafkan orang lain yang bersalah kepada kita, dan berusaha untuk tidak menjatuhkan orang lain, dsb. Inilah beberapa contoh sederhana untuk mempersiapkan diri. Sadarilah bahwa kita adalah anggota keluarga Allah yang sementara mempersiapkan diri, dan sebagai anggota apa tanggapan kita jika Bapa berkata, “Anak-anakKu, apakah kamu sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Putra-Ku, Yesus Kristus?”

(Fr. Jefry Lumentut)

“…Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita” (Yes. 40:3)

Marilah Berdoa:

“Ya, Tuhan, Tunjukanlah jalanMu, supaya aku hidup menurut kebenaranMu”

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini