“PENYERAHAN DIRI YANG SEJATI”: Renungan, Jumat 22 Desember 2023

0
863

Hari Biasa Khusus Adven (U)

1Sam. 1:24-28; Mzm. 1Sam. 2:1,4-5,6-7,8abcd; Luk. 1:46-56.

Sebagai mahkluk sosial, setiap orang pasti akan mengalami suatu keadaan dimana ia membiarkan dirinya untuk dibentuk oleh orang lain. Pembentukan ini bukanlah suatu penyerahan diri yang didasarkan pada kewajiban atau kodrat manusia untuk menaatinya. Pembentukan ini justru didasarkan atas kepercayaan personal kepada seseorang karena sadar bahwa akan ada kebahagiaan bagi dirinya. Penyerahan diri ini terjadi bukan karena paksaan, melainkan dengan kesadaran dan kemauan diri sendiri. Inilah penyerahan diri yang sejati.

Penyerahan diri seperti ini terungkap lewat sikap dan tindakan dari Hana, ibunda Samuel. Pada waktu Samuel berusia belia, Hana menghantarnya kepada Tuhan untuk menyerahkan anak itu supaya dibentuk oleh Tuhan sendiri secara langsung. Dalam bacaan pertama hari ini Hana ingin menunjukkan bahwa kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan itu melebihi apapun. Sama seperti yang dikatakan pada 1Sam. 1:28: “Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan.” Oleh karena itu sebagai mahkluk ciptaan Tuhan kita harus berusaha untuk menyerahkan atau memasrahkan diri kita sepenuhnya kepada kehendakNya.

Seperti teladan yang telah ditunjukkan oleh Maria dan Elizabeth. Pada waktu mereka diberitahukan akan mengandung seorang putra, mereka tidak menolak kehendak Allah itu. Dengan iman yang penuh mereka tetap menerima dengan tulus hati kehendak Allah bagi diri mereka. Hal itu mereka lakukan karena mereka sungguh percaya bahwa kebahagiaan sesungguhnya akan mereka peroleh ketika mengikuti kehendak Tuhan. Itu berarti Penyelamat dunia yakni Yesus Kristus diterima oleh Maria sebagai anaknya. Dan itulah kehendak Allah yang terjadi. Ada pepatah mengatakan “Manusia yang merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan apa yang harus dilakukan manusia”.

Oleh karena itu, di masa penantian ini, sebagai umat beriman, marilah kita dengan iman dan kepercayaan yang penuh membiarkan diri kita dibentuk oleh Allah. Dengan demikian ketika Kristus datang kembali, kita dapat memperoleh kebahagiaan serta keselamatan dari padaNya. Sebab “hatiku bersukaria karena Tuhan penyelamatku.”

Romaldo Fangohoi

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah penyelamatku” (Luk. 1:46-47)

Marilah berdoa:

Ya Allah, kasihanilah aku sebab aku orang berdosa. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini