“KEDATANGAN JURUSELAMAT”: Renungan, Senin 25 Desember 2023

0
1077

Hari Raya Natal (P)

Yes. 52:7-10; Mzm. 98:1,2-3ab, 3cd-4,5-6; Ibr. 1:1-6; Yoh. 1:1-18 (Yoh. 1:1-5,9-14)

Hari Natal adalah peristiwa iman yang penuh sukacita karena kita mensyukuri misteri inkarnasi, yaitu Sang Sabda, Putera Allah yang kekal, datang ke dunia. Ia lahir sebagai manusia lemah, yang nampak dalam bayi mungil di palungan. Injil Yohanes yang kita baca pada Misa Natal pagi ini adalah bagian prolog atau pembukanya yang menyatakan: Pada mulanya adalah Sabda. Sabda itu bersama-sama dengan Allah dan Sabda itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama- sama dengan Allah, dan kini datang ke dunia ini dan tinggal di antara manusia.

Manusia yang meringkuk dalam kegelapan maut, dikuasai oleh dosa dan kematian akibat dosa asal yang di warasi dari Adam dan Hawa, kini telah ditebus dan dosanya dilenyapkan oleh kedatangan Sang Juruselamat. Maka Nabi Yesaya mengajak umat Israel untuk bersukacita menyambut kedatangan kabar sukacita bahwa Allah mengunjungi umatNya. “Betapa indahnya melihat dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan kepada Sion: Allahmu itu Raja! »

Tidak dapat disangkal bahwa berita Natal telah membawa damai dan sukacita kepada seluruh dunia. Gereja sebagai sakramen kehadiran Kristus di dunia ini merayakan hari Natal kelahiran Sanga Raja Damai itu dengan penuh syukur. Di zaman modern yang semakin maju dan berkembang, di zaman teknologi informasi dan Kecerdasan Buatan, di tengah krisis iklim global yang diakibatkan oleh pertambahan penduduk bumi dan kebutuhan akan kemajuan ekonomi,  semua manusia di bumi membutuhkan Dia yang datang untuk membimbing, menolong dan menebus. Manusia bukan hanya membutuhkan kesejahteraan material duniawi, melainkan juga kebahagiaan rohani dan surgawi. Dunia ini hanya dapat menyediakan kesejahteraan semantara, dan manusia merindukan kebahagian yang abadi.

Manusia adalah makhluk hidup yang menjadi problem bagi dirinya sendiri. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang penuh kontradiksi, karena dari satu pihak ia terbatas dan fana, namun dari lain pihak memiliki kerinduan yang tidak terbatas dan kekal. Kenyataan itu tidak bisa dipecahkan oleh manusia sendiri. Manusia butuh penolong  yang datang dari atas. Kita semua berada dalam lingkaran setan yang sama yang berputar-putar antara kedosaan dan kefanaan. Tidak seorang pun di antara manusia dapat menolong sesamanya keluar dari lingkaran setan itu. Tidak ada seorang manusia pun atau nabi apapun yang dapat membebaskan sesamanya manusia dari keterpurukan dosa dan kefanaan itu, karena mereka sendiri berada dalam keadaan yang sama dan terperangkap dalam kedosaan dan kefanaan. Dalam arti inilah hari Natal kelahiran Sang Juruselamat benar-benar membawa sukacita yang luar biasa. Dia yang datang dari Allah dan yang adalah Allah sejak kekal datang ke dunia ini untuk menolong kita semua. Yesus Kristus tidak berada dalam lingkaran setan dosa dan kefanaan. Yesus tidak terjebak dan terperangkap dalam keadaan dosa dan fana, melainkan Dia adalah bebas dari kuasa dosa itu. Yesus adalah Yang Kudus dari Allah, PuteraTunggal Bapa yang kekal, dan kini turun ke dunia fana ini. Dia mengalami nasib manusia yang bisa mati sebagai akibat dosa, padahal Dia tidak mengenal dosa. Dia dijadikan berdosa demi kita yang berdosa supaya Dia membebaskan kita dari kuasa dosa dan maut.

Hari Natal ini adalah benar-benar hari yang penuh sukacita dan penuh rahmat, hari pembebasan umat manusia dari dosa, hari di mana Allah menunjukkan belas kasihan-Nya kepada manusia. Bunda Maria dan Santo Yosep terpilih menjadi perantara kehadiran Putera Allah ke dunia ini. Kita patut berterimakasih kepada Bunda Maria dan Santo Yosep yang dengan rela dan berani menerima tugas dan tanggungjawab yang diberikan oleh Allah untuk menjadi tempat bayi Yesus dibesarkan, dididik dan dibina menjadi seorang manusia. Dia yang adalah Putera Allah lahir dalam keluarga sederhana diNasaret itu, keluarga Josep dan Maria. Pada hari Natal yang kudus ini, mata seluruh dunia tertuju kepada mereka. Maka iman dari generasi ke generasi terarah ke palungan kudus di kandang hewan tempat Sang Putera Allah dibalut dengan kain lampin di tempat makanan hewan. Allah yang Mahakuasa tampil dalam kehinaan dan kesederhanaan yang mengagumkan. Marilah kita datang ke Betlehem dan menyembah Dia.

P. Albertus Sujoko, MSC

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14a).

Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga kedatangan Juruselamat menguatkan iman kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini