Hari Biasa Pekan II Adven (U)
Sir. 48:1-4, 9-11; Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19; Mat. 17 10-13
Sebelum abad 18 dan 19, banyak manusia di dunia cenderung memiliki pandangan Geosentris. Geosentrisme adalah pandangan bahwa bumi adalah pusat dari tata surya. Pandangan ini berasal dari Gereja yang waktu itu sangat mempengaruhi dunia. Orang cenderung mengabaikan ilmu pengetahuan dan secara mutlak mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh Gereja. Gereja memiliki pengaruh yang besar terhadap berbagai aspek kehidupan. Bahkan Gereja pada waktu itu berhak untuk menghukum siapapun yang tidak sepemikiran atau sejalan dengannya. Termasuk orang yang berusaha mengubah pengetahuan bahwa bumi adalah pusat tata surya. Gereja yang berpegang pada teori Geosentrisme mengajarkan bahwa teori tersebut adalah ajaran yang alkitabiah atau ajaran yang memiliki dasar biblis. Gereja mengutip Kitab Mazmur 104:5 sebagai landasan dari teori Geosentris. Isi ayat dari kitab ini berbunyi, “yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya”.
Pandangan Gereja tentang Geosentrisme kemudian dilawan oleh Galileo Galilei. Ia merupakan seorang ilmuwan terkenal pada masa itu. Ia menolak teori Geosentris dan berpandangan bahwa yang menjadi pusat dari tata surya adalah matahari (Heliosentrisme). Teorinya merupakan teori yang sebelumnya telah diajarkan oleh Copernicus. Teori Heliosentrisnya yang bertolak belakang dengan Gereja membuatnya harus ditahan dan mendapatkan banyak pertentangan dari Gereja. Teorinya dilarang untuk diajarkan kepada siapapun pada waktu itu. Seiring perkembangan waktu dan berkembang pesatnya ilmu pengetahuan, orang mulai menyadari bahwa apa yang diajarkan oleh Galileo Galilei tentang Heliosentrisme benar adanya. Pada kepemimpinannya, Paus Yohanes Paulus II meminta maaf atas kesalahan Gereja yang telah menghukum Galileo-Galilei yang menyatakan bahwa apa yang dibuat Gereja pada waktu itu salah.
Cerita Galileo Galilei di atas sejalan dengan bacaan Injil hari ini. Yohanes Pembaptis yang digambarkan mirip dengan Elia, mengajarkan kebenaran tentang kedatangan Sang Juru Selamat. Yohanes Pembaptis secara terang-terangan mengajarkan bahwa Mesias akan datang. Namun kebenaran yang diajarkan Yohanes Pembaptis tidak ditanggapi dengan baik oleh banyak orang. Banyak orang pada waktu itu secara harafiah berpegang teguh pada ajaran ahli-ahli Taurut bahwa sebelum kedatangan Mesias, Elia akan terlebih dahulu datang. Karena berpegang teguh pada ajaran ahli-ahli taurat, maka kebenaran yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis tidak didengarkan oleh mereka.
Dalam keseharian kehidupan kita, sering kali kita merasa bahwa pandangan atau pemikiran kita adalah yang paling benar. Hal ini dikarenakan pandangan atau pemikiran tersebut telah sejak lama kita pegang. Padahal belum tentu pandangan tersebut adalah sebuah kebenaran. Kenyataan bahwa kita merasa kita yang paling benar melahirkan sikap egois dalam diri, sehingga kita menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang lain. Pada masa Adven ini, Tuhan Yesus mengingatkan agar kita hendaknya terbuka bagi siapapun, karena belum tentu apa yang ada pada kita adalah sebuah kebenaran.
Fr. Tomas Tawurutubun
“Dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia…” (Mat. 17:12).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, tuntunlah kami agar mampu menerima pandangan dan pemikiran orang lain. Amin.











