“YESUS MENANGIS?”: Renungan, Kamis 23 November 2023

0
919

Hari Biasa (H)

BcE 1 Mak. 2:15-29; Mzm. 50:1-2,5-6,14-15; Luk. 19:41-44

Menangis merupakan salah satu aktivitas yang sering terjadi dalam kehidupan setiap orang. Dengan kata lain, setiap manusia tentunya mengalami hal yang demikian. Menangis juga merupakan salah satu ekspresi yang ditunjukkan manusia, yang lahir dari keadaan dan perasaan manusia sendiri. Tetapi menangis bisa dimengerti secara berbeda. Ada yang menangis karena berada dalam situasi buruk atau terpukul, dan ada juga yang menangis karena berada dalam situasi bahagia.

Injil hari ini memperlihatkan bahwa Yesus, Tuhan kita sedang menangis. Mengapa Yesus menangis? Apa sebenarnya yang ditangisi Yesus? Kedua pertanyaan ini tentunya menjadi bahan refleksi dan permenungan kita sebagai manusia yang mengimani Yesus sebagai Tuhan kita sendiri. Yesus menangis bukan karena melihat orang yang berduka atau meninggal dunia seperti Lazarus, melainkan karena melihat umat-Nya yang berlaku salah dengan tidak mengusahakan damai sejahtera dalam hidup ini. Inilah yang menunjukkan bahwa Yesus sebagai pembawa damai, menginginkan agar umat-Nya hidup dalam damai. Damai dalam kehidupan pribadi tetapi juga dalam kehidupan bersama.

Gambaran serupa pun terlihat dalam bacaan pertama. Matatias adalah seorang pemimpin terhormat. Dia melawan seorang Yahudi yang mengutamakan ketetapan raja daripada Hukum Taurat dan peraturan-peraturan Tuhan.

Dalam kehidupan, entah melalui pikiran, perkataan, dan bahkan perbuatan, kita pun sering melukai hati Yesus, bahkan lebih daripada itu sampai membuat Tuhan kita menangis akan kehidupan kita. Terkadang dalam hidup, kita sudah mengetahui mana yang baik dan mana yang jahat, namun kita tetap saja melakukan yang jahat. Inilah yang menjadi penggenapan dalam Injil tersebut: “Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu”.

Walaupun demikian, Yesus tetap menunjukkan bahwa begitu besar cinta-Nya bagi umat-Nya. Ia senantiasa mengusahakan agar umat-Nya melakukan segala sesuatu yang baik sesuai dengan hukum dan ajaran-Nya. Oleh karena itu, lewat bacaan-bacaan ini, kita sebagai pengikut Tuhan diajak untuk senantiasa mengusahakan hal yang baik dalam hidup dan relasi kita. Kita juga diajak untuk senantiasa patuh dan mengutamakan Tuhan dalam hidup dan karya kita.

Tuhan menunjukkan betapa pentingnya damai dalam hidup kita. “Damai kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu”. Hal ini menunjukkan bahwa kita manusia diajak untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dalam hidup kita, agar kita semua dapat memperoleh damai itu sendiri dari Tuhan dan membagikannya dalam kehidupan bersama.

(Fr. Ambro Rahawarin)

“… Karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau” (Luk. 19:44).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bimbinglah kami selalu dalam damai-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini