“MENJADI HAMBA YANG BAIK”: Renungan, Rabu 22 November 2023

0
1463

Pw S. Sesilia, PrwMrt (M)

2Mak. 7:11,20-31; Mzm. 17:1,5-6,8b,15; Luk. 19:11-28; atau dr RUybs

Dalam Injil hari ini kita dapat melihat bahwa perumpamaan yang diberikan oleh Yesus menegaskan kepada kita akan satu pertanyaan besar yakni: Ketika Kerajaan Allah tiba, kita akan dijumpai Allah sebagai hamba yang bagaimana? Bacaan-bacaan pada hari ini memberikan kepada kita sebuah gambaran tentang bagaimana kita sebagai manusia-manusia pilihan Allah memilih untuk menjadi hamba yang baik ataupun hamba yang jahat.  Bacaan pertama dengan jelas menggambarkan bagaimana keteguhan iman seorang ibu dan ketujuh anaknya yang dengan siap menanti kematiannya demi kesetiaan dan kepercayaannya kepada kehendak dan kasih Allah.

Sedangkan dalam Injil Lukas kita dapat melihat bagaimana hamba-hamba yang telah dipercayakan akan satu tanggungjawab dengan caranya masing-masing bersikap terhadap tanggungjawab yang diberikan oleh tuannya itu. Kedua hamba itu memilih untuk mengolah dengan baik kepercayaan yang diberikan oleh tuannya dan menghasilkan sesuatu yang membuat hati tuannya senang. Sedangkan salah seorang hamba memilih untuk tidak mengolah kepercayaan itu dan bersikap masa bodoh sehingga tidak menghasilkan apa-apa. Ketiga hamba ini tentunya mendapatkan imbalan sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan.

Kita sebagai umat yang dikasihi Allah terkadang juga bersikap seperti hamba yang bodoh itu. Ketika kita diberikan satu tanggungjawab dan kepercayaan oleh Allah terkadang kita tidak menjalankannya dengan baik atau bahkan kita tidak mengindahkannya sehingga ketika waktunya tiba, kita sendiri kebablasan dan akhirnya mendapat hukuman setimpal dengan perbuatan kita. Umat beriman pun diajak untuk menjadi hamba yang pintar, yang tahu memposisikan diri dan dengan taat serta setia menjalankan tugas dan tanggungjawab yang diberikan kepada kita seperti kedua orang hamba yang baik itu. Janganlah kita mengabaikan tugas dan tanggungjawab yang diberikan kepada kita.

Jadilah hamba yang pintar, baik dan setia kepada kehendak Allah seperti ibu dan ketujuh anaknya dalam bacaan pertama. Dengan setia kepada kehendakNya, kita dianggap layak di hadapanNya dan kita pun memperoleh hadiah sesuai dengan apa yang telah kita perbuat. Hadiah itu ialah keselamatan dan hidup yang kekal.

(Fr. Edwar Mere)

“Setiap orang yang mempunyai kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil, juga apa yang ada padanya” (Luk. 19:26).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami hamba yang baik yang setia dengan tanggungjawab dan kehendakMu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini