“BUAH DARI BERTAHAN”: Renungan, Rabu 29 November 2023

0
952

Hari Biasa (H)

Dan. 5:1-6, 13-14, 16-17, 23-28; Dan. 3:62-67; Luk. 21:12-19

Dalam bacaan pertama diceritakan tentang kisah raja Belsyazar dan nabi Daniel. Belsyazar diceritakan sebagai raja yang bergelimang harta, gemar pesta pora dan mabuk-mabukan. Di sisi lain Daniel dilukiskan sebagai seorang nabi yang penuh hikmat dan bijaksana. Daniel dipenjara karena dianggap mengancam kerajaan. Namun semua berubah ketika Daniel mampu memberi makna atas tulisan di dinding yang berbunyi, “mene, mene, tekel ufarsin” kepada raja. Daniel mengisyaratkan peringatan dari Allah akan posisi, kuasa sang raja yang segera berakhir. Tak lama setelah tafsiran itu, Belsyazar pun lengser dari jabatannya sebagai raja.

Satu hal penting yang tersirat dalam kisah di atas, yaitu tidak ada yang kekal di dunia ini. Kekayaan dan kuasa yang dimiliki raja Belsyazar menjadi bukti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini sifatnya sementara. Bahkan kebahagiaan dan penderitaan sekalipun yang kita alami juga tidak abadi. Sebab pada waktunya Tuhan sendiri yang akan mengambilnya daripada kita.

Nah, supaya segala hal yang sifatnya sebentar itu menjadi sesuatu yang kekal, maka apa yang mestinya kita buat? Yesus dalam bacaan Injil secara tegas mengatakan, “Kalau kamu tetap bertahan, maka kamu akan memperoleh hidup (Luk. 21 :19)”. Melalui kata-kata ini, Yesus mau mengingatkan kepada kita tentang kepercayaan yang benar. Bahwa ketika kita mengakui Dia sebagai Tuhan, maka kita telah menemukan dan mengakui Yesus sebagai sumber kebenaran. Persoalan yang muncul kemudian ialah apakah kita dapat bertahan dalam Sang Kebenaran itu? Bukan suatu hal mudah untuk bertahan dalam Dia.

Seringkali kita berhadapan dengan rupa-rupa godaan, misalnya foya-foya dan pesta pora yang tidak sehat, yang mungkin ditunggangi oleh kemewahaan dan kuasa seperti raja Belsyazar. Godaan yang bisa saja membuat kita jauh dari Tuhan. Karenanya Tuhan Yesus mengajak kita untuk kembali memfungsikan hati secara baik, sebab hati adalah pusat pertimbangan moral tertinggi. Sebab dari hatilah lahir kebijaksanaan dan hikmat sebagaimana yang dialami oleh nabi Daniel.  Nah, mereka yang penuh hikmat dan kebijaksanaan tahu persis tentang berbagai konsekwensi yang dihadapinya apabila mengikuti Yesus. Yesus sendiri menjamin suatu kehidupan yang kekal bagi orang-orang yang mau bertahan dalam Dia.

Karlos Tutratan

“Karena namaKu kalian akan dibenci semua orang. Tetapi tidak sehelai pun rambut kepalamu akan hilang”(Mat. 21:17.18)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, rahmatilah umatMu, agar selalu mengandalkanMu dalam hidup kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini