“KUDUS, KUDUS, KUDUS”: Renungan, Rabu 1 November 2023

0
1180

Hari Raya Semua Orang Kudus (P)

Why. 7:2-4,9-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; 1 Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a.

Setiap budaya mempunyai kebiasaannya. Dalam Budaya Minahasa, ada kebiasaan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, kepercayaan kepada para “opo” (leluhur), dan kepercayaan kepada yang Esa (Tuhan). Hal ini menunjukkan bahwa dalam Budaya Minahasa, masyarakatnya sudah mengenal hal yang bersifat spiritual. Ada keyakinan ikatan spiritual yang dihidupi dalam masyarakat tersebut. Dan mungkin saja dalam kebudayaan lain ada kebiasaan sama yang dipraktekkan.

Gereja juga mengajarkan hal yang serupa. Gereja mengajarkan adanya ikatan spiritual doa antara umat yang berada dalam api penyucian, umat yang berada di surga dan umat yang masih hidup di dunia. Keyakinan inilah yang membuat Orang Kristen tahu dan mau saling mendoakan baik yang masih hidup, maupun yang telah meninggal dunia.

Untuk itu setiap tanggal 1 November, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Hal ini dipraktekkan dalam Gereja untuk menghormati dan mengenang semua orang kudus secara universal, termasuk pula terhadap para anggota gereja setempat yang telah meninggal dunia. Mereka yang kudus inilah yang disebutkan dalam Kitab Wahyu, “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka dan dengan suara nyaring mereka berseru:” “Amin! Puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”.

Mereka yang berseru kepada Anak Domba adalah orang-orang yang sudah membasuh jubah mereka dengan Darah Anak Domba dan telah menjadi kudus. Tentunya menjadi kudus adalah panggilan bagi setiap Orang Kristen. Dan panggilan tersebut sudah sangat nyaring dikumandangkan dalam bacaan Injil. Yesus dalam Sabda BahagiaNya menunjukkan bahwa mereka yang miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, pembawa damai, dianiaya karena kebenaran adalah yang empunya Kerajaan Surga.

Mereka yang mau menjadi kudus pula mempunyai pengharapan untuk hidup bahagia bersama Dia dalam kerajaanNya. Tentunya pengharapan tersebut didasarkan pada pengharapan akan Yesus Kristus. Yesuslah kunci untuk sampai pada kehidupan kekal di surga. Maka dari itu, panggilan untuk hidup kudus tak terlepas dari pangharapan akan Yesus Kristus. Dengan berharap padaNya, orang beriman akan dihantar pada hidup kudus bersamaNya di dalam Kerajaan Surga.

Fr. Christiano Mandagi

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”. (Mat. 5:8)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bimbinglah aku agar tetap kuat dalam hidup ini untuk menjadi kudus seperti para kudusMu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini