“HARAPAN SETELAH DITOLAK”: Renungan, Selasa 3 Oktober 2023

0
1774

Hari biasa (H).

Za. 8:20-23; Mzm. 87:1-3, 4-5, 6-7; Luk. 9:51-56.

Hidup manusia tidak lepas dari penolakan. Manusia bisa saja mengalami berbagai macam bentuk penolakan. Terhadap penolakan itu sudah pasti akan ada reaksi yang muncul. Reaksi atau tanggapan terhadap penolakan itu beragam tergantung dari jenis penolakan dan terlebih tergantung dari sifat manusia itu sendiri. Ada yang menanggapinya dengan sabar, ada pula yang menanggapinya dengan rasa kecewa, marah, dan juga benci. Lebih buruknya lagi kalau yang ditolak menaruh dendam kepada yang menolak. Atau, bisa juga yang ditolak itu merasa bahwa sudah tidak ada harapan sama sekali. Orang yang menyikapi penolakan dengan sikap positif, selalu memandang bahwa masih ada harapan ke depan dan di balik penolakan itu ada nilai kebaikan yang dapat dipetik.

Injil hari ini mengisahkan tentang penolakan yang dialami oleh Yesus dan para muridNya. Yesus yang hendak ke Yerusalem, masuk ke sebuah desa orang Samaria. Yesus tidak diterima oleh orang-orang Samaria. Penolakan itu mengundang reaksi dari Yakobus dan Yohanes. Terhadap penolakan itu, Yohanes dan Yakobus hendak membinasakan orang-orang yang menolak Yesus. Sebaliknya, Yesus menanggapi penolakan itu dengan diam dan justru Yesus menegur Yakobus dan Yohanes. Sikap yang ditunjukkan oleh Yesus ini bukan seolah-olah ia menyetujui penolakan tersebut, tetapi Yesus sabar dan mau menyadarkan para murid bahwa tindakan membenci bukanlah yang diharapkan. Tuhan tidak menghendaki kejahatan dibalas dengan kejahatan. Jauh lebih baik menaburkan kebaikan dari pada kebencian.

Bacaan Injil hari ini mengajak kita semua untuk bermenung terhadap sikap kita atas penolakan-penolakan yang dialami. Belajar dari Yesus, kita pun diajak untuk bersikap sabar dan senantiasa menaburkan kebaikan dari pada kebencian. Karena yang mau di ajarkan dan ditekankan Yesus ialah soal menaruh kebaikan dan berbenah diri dahulu. Karena kita percaya bahwa memberi dan berbuat baik pastilah mendatangkan sesuatu yang baik pula. Dari Yesus kita belajar bahwa dalam dia masih ada harapan. Sama seperti Yesus yang tetap melanjutkan karya penyelamatanNya kendati ditolak, kita pun selayaknya terus berjuang meski sering mendapat penolakan. Sesama kita bisa saja menolak kita, tetapi ingatlah bahwa ada Tuhan yang senantiasa mencintai.

(Fr. Reijones Pantow)

“Akan tetapi Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.” (Luk. 9:55-56)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah pengharapan kami kendati kami sering ditolak. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini