Hari Minggu Biasa XXVI (H).
Yeh. 18: 25-28; Mzm. 25:4bc-5,6-7,8-9; Flp 2:1-11; Mat. 21:28-32
Dalam perjalanan hidup, sering kali kita dihadapkan dengan pilihan dan keputusan yang menggambarkan siapa kita sebenarnya. Dalam bacaan injil, Yesus menceritakan perumpamaan tentang dua orang anak yang menggambarkan dua sikap yang berbeda dalam menanggapi undangan Allah. Anak pertama yang mengatakan “Ya” namun tak mengikuti perintah ayahnya menggambarkan perilaku yang terikat pada preferensi dan pandangan luar. Ini mencerminkan kecenderungan untuk bertindak demi mendapatkan penghargaan sosial, walaupun tindakan tersebut tak muncul dari keyakinan batin yang kuat. Sementara anak kedua, yang pada awalnya menolak dengan keras namun kemudian merasa menyesal dan melakukan tugas, menunjukkan perubahan yang lebih mendalam dalam pandangan dan tindakannya. Anak kedua mencerminkan pemahaman bahwa perbuatan baik adalah hasil dari pemahaman yang mendalam, dan bukan sekadar respons terhadap tuntutan sosial.
Ketika kita merenungkan kedua sikap ini, kita segera menyadari bahwa sikap perubahan dan ketulusan adalah inti dari respons kita terhadap undangan Allah. Hal mana dalam bacaan pertama dilukiskan betapa Allah menekankan harapan-Nya terhadap umat-Nya untuk berbalik dari jalan yang salah. Pertobatan bukan hanya mengenai perubahan luar, tetapi juga transformasi dalam cara kita memandang dunia dan nilai-nilai yang benar. Hal mana dalam Bacaan Kedua digambarkan bagaimana Rasul Paulus mengajak jemaat di Filipi untuk hidup dalam kerendahan hati dengan menghargai satu sama lain, serta saling melayani dengan tulus. Konsep ini mencerminkan nilai-nilai yang mendalam dan sikap yang bertujuan untuk membangun harmoni dan persatuan di dalam kehidupan bersama sebagai satu jemaat yang senantiasa menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.
Dalam hidup ini, kita diundang untuk tidak hanya mengatakan “Ya” dengan kata-kata, tetapi juga untuk menghayati kata-kata tersebut dalam tindakan nyata. Sikap tulus dan kesediaan untuk berubah adalah inti dari respons yang diharapkan oleh Tuhan. Dengan merenungkan pesan-pesan ini, kita dapat menciptakan dasar yang kokoh untuk melakukan transformasi batin dan kesediaan untuk mengikuti kehendak Tuhan dengan penuh komitmen.
(Fr. Gregorius Anselmus Legi)
“Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.” (Mat. 21:30)
Marilah berdoa:
Ya Bapa, semoga kami selalu siap menanggapi panggilanMu. Amin
.











