“BERBAHAGIALAH DAN CELAKALAH!”: Renungan, Rabu 13 September 2023

0
922

Pw S. Yohanes Krisostomus, UskPujG (P)

Kol. 3: 1-11; Mzm. 145:2-3,10-11,12-13b; Luk. 6: 20-26.

Kebahagiaan dan celaka adalah dua komponen yang sering terjadi dalam dinamika kehidupan manusia. Kebahagiaan itu sendiri tentu merupakan satu hal yang sangat didambakan oleh kita manusia, di mana setiap orang ingin agar hidupnya bahagia pada masa kini dan masa depan. Karena itu, kebahagiaan merupakan prioritas dari tujuan hidup manusia. Kebahagiaan pada umumnya ditemukan ketika seseorang memperoleh kesejahteraan hidup, pujian, dan bahkan kasih sayang dari semua orang. Karena jika tidak memperoleh semuanya itu, manusia hidup dalam keterpurukkan.

Hal ini menjadi berbeda dengan Injil yang kita renungkan pada saat ini, di mana kebahagiaan yang dimaksudkan Yesus di sini adalah keadaan di mana murid-muridNya tidak memperoleh apa-apa, “berbahagialah yang miskin, berbahagialah yang lapar, berbahagialah yang dibenci dan bahkan dikucilkan”. Apabila kata-kata Yesus ini dilakukan pada zaman sekarang pasti kita umatNya bukanlah memperoleh kebahagiaan melainkan penderitaan. Namun sebenarnya ucapan bahagia yang dimaksudkan Yesus ini dapat diartikan dalam peribahasa “bersusah-susahlah dahulu, bersenang-senang kemudian”. Ungkapan bahagia ini sebenarnya memberikan sebuah bentuk pengujian dari Yesus kepada murid-muridNya agar tidak menaruh diri pada kemegahan duniawi. Yesus menghendaki agar dengan ungkapan kebahagiaan itu, murid-muridNya sungguh-sungguh tetap menaruh kepercayaan dan hidupnya kepada Tuhan. Yesus sendiri lahir dari keluarga kecil dan pernah dibenci dan dikucilkan banyak orang, tetapi karena kepercayaan dan kepasrahan pada BapaNya sehingga semuanya itu menghantar Ia pada kebahagiaan bersama dengan Bapa di surga. Oleh karena itu, Yesus juga hendak menunjukkan kerahimanNya lewat memberikan pengalaman hidupNya kepada para murid, sehingga para murid senantiasa mengikuti dan berjalan bersama Yesus Kristus.

Ungkapan bahagia ini hendak menunjukkan jati diri seorang pelayan Kristus, di mana sebagai seorang pelayan Kristus ia harus berani untuk menanggung semua konsekuensinya, dan salah satu konsekuensi yang sering terjadi pada pelayan adalah dibenci. Inilah hakekat seorang pelayan yang mana tidak berfokus pada aspek duniawi melainkan aspek rohani. Ini juga merupakan bentuk penyangkalan diri sebagai seorang pengikut Kristus, di mana seluruh hidupnya diberikan kepada Tuhan, Sang sumber kehidupan. Hal ini pun ditunjukkan dengan baik oleh Santo Yohanes Krisostomus yang diperingati pada hari ini, di mana walaupun ia dimintakan oleh keluarganya untuk masuk dalam urusan duniawi, ia tetap berpegang teguh untuk tetap masuk dalam dunia rohani sehingga akhirnya ia menjadi seorang uskup.

Oleh karena itu lewat injil hari ini saya mengajak kita semua sebagai pengikut Kristus untuk senantiasa berbahagia atas apa yang kita alami hingga sekarang ini sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan atas anugerahNya. Tetapi juga saya mengajak kita semua di zaman sekarang ini yang penuh dengan kemajuan yang ada, agar kita tidak terbuai secara berlebihan, sehingga kita bisa masuk ke dalam pencobaan dan jauh dari Tuhan. Kita hendaknya senantiasa menaruh harapan, hidup, dan karya kita dalam nama serta kemuliaan Tuhan.

(Fr. Ambrosius Andy Rahawarin)

……Berbahagialah, hai kamu yang sekarang menangis, karena kamu akan tertawa.

(Luk. 6: 21)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, ajarilah kami selalu untuk senantiasa berharap dan berserah diri kepadaMu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini