Hari Biasa (H)
1 Tes. 2:9-13; Mzm. 139:7-8,9-10,11-12ab; Mat. 23: 27-32
Dalam kemajuan teknologi zaman ini, siapa yang tidak kenal dengan Media Sosial (Medsos)? Mulai dari What’s App, Facebook, Tiktok, Instragram, Tweeter, dll., pasti kita semua tahu dan bahkan menjadi pengguna (user) dari beberapa medsos tersebut. Fitur-fitur di dalamnya memberikan kita akases untuk mempertontonkan segala ativitas kita di dunia nyata ke dalam dunia maya. Pertanyaannya, apakah semua yang kita pertontonkan itu sesuai dengan kenyataan yang kita lakukan?
Injil hari ini berbicara tentang Yesus yang secara tegas menegur kemunafikan hidup beragama para ahli Taurat dan orang Farisi. Pasalnya, tindakan mereka tidak sejalan dengan apa yang mereka katakan di depan umum. Mereka menampilkan pribadi yang kelihatan suci, tetapi kenyataanya seperti orang-orang yang tidak mengenal hukum Tuhan, cenderung bersikap sombong, haus akan pujian dan kuasa serta tidak memiliki kepedulian terhadap sesama.
Hal yang sama pun kerap terjadi pada kebanyakan orang di zaman ini. Citra dan penampilan sering dijadikan sebagai hal terpenting dengan motivasi agar terlihat baik di mata orang, padahal nyatanya tidaklah demikian. Misalnya, di dunia maya orang sering memposting hal-hal yang bersifat rohani, namun di dunia nyata ia jarang ikut Perayaan Ekaristi, tidak pernah hadir dalam Ibadat bersama, dan bahkan tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan menggereja lainnya.
Teguran keras Yesus kepada ahli Taurat dan orang Farisi menjadi teguran juga bagi kita para pengikutNya. Yesus ingin agar kita tidak terlalu mementingkan soal penampilan apalagi dengan motivasi dangkal bahwa agar kita terlihat baik di mata orang. Hal tersebut bukanlah sebuah tolok ukur untuk menjadi seorang beriman yang benar di hadapan Allah. Bagi Tuhan yang terpenting ialah ketika setiap pengikutNya menemukan di dalam dirinya kualitas hati seperti hati Yesus. Kualitas hati seperti hati Yesus berarti apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan selaras dengan pikiran, perasaan dan keinginan Yesus. Warta yang serupa disabdakan Allah kepada Samuel yang berbunyi: “Manusia melihat dari apa yang tampak di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Hal ini mau mengatakan bahwa orang yang memiliki kualitas hati seperti hati Yesus akan memancarkan dan menampilkan kualitas hati yang demikian kepada orang lain dalam hidupnya. Dengan demikian, seluruh perkataan dan tindakan kita tidak menjadi sebuah kemunafikan diri dengan dalil kekuasaan, pujian, nama baik, dan kekayaan yang fana, melainkan menjadi cerminan kebaikan untuk menyatakan kasih Allah terhadap orang banyak.
(Fr. Gerren Maweikere)
“Demikian jugalah kamu di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelh dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan” (Mat. 23:28)
Doa :
Tuhan, jadikanlah hati kami seperti hatiMu. Amin.











