“TANGGAPAN ATAS SABDA ALLAH”: Renungan, Minggu 16 Juli 2023

0
1080

Hari Minggu Biasa XV (H)

Yes. 55:10-11; Mzm. 65:10abcd.10e-11.12-13.14; Rm. 8:18-23; Mat. 13:1-23.

Sabda Allah disampaikan kepada manusia sejak masa Adam dan Hawa. Sejak itu sabda tersebut terus dinyatakan kepada anak-anak dan keturunannya sampai terjadinya air bah. Setalah air bah, sabda itu kembali disampaikan kepada Nuh dan keturunannya sampai peristiwa Menara Babel yang hancur, dan bahasanya yang dikacaubalaukan, sehingga mereka tidak saling mengerti satu sama lain. Selanjutnya, Allah memanggil Abraham dan mengadakan perjanjian dengannya bahwa ia akan mendapat negeri yang berlimpah susu dan madu; isterinya Sarah akan mengandung dan melahirkan anak, dan Ia akan menjadikannya bangsa yang besar. Ia akan menjadi bapa bagi sejumlah besar bangsa, dan keturunannya akan sebanyak bintang di langit. Setelah Abaraham, Allah terus berfirman kepada umat manusia melalui para nabi, sampai pada kedatangan Yesus. Gereja pun tetap melanjutkan menyampaikan sabda itu hingga saat ini melalui para pewartanya.

Ketika Sabda Allah disampaikan kepada pelbaga pihak sebagaimana disebutkan di atas, ada yang menerimanya dengan baik lalu melaksanakannya, ada yang menerimanya tetapi tidak melaksanakannya sebagaimana mestinya, dan ada pula yang sama sekali tidak mengindahkannya.

Adam dan Hawa mula-mula menerima dan percaya pada Allah dan ketetapan-Nya, tetapi kemudian meninggalkan-Nya karena lebih terpikat pada bujukan dan rayuan iblis yang menggoda. Akibatnya ialah keduanya terusir dari Firdaus. Kain cemburu pada adiknya Habel sehingga membunuhnya, meskipun ia tahu ketetapan dan hukum Tuhan. Akibat dari perbuatannya ialah ia menjadi seorang pengembara di bumi. Nuh dan keluarganya setia pada hukum dan ketetapan Tuhan, dan menjadi satu-satunya keluarga yang selamat dari air bah yang membinasakan. Ada dari keturunan Nuh ingin menyamai Allah yang dilambangkan dengan Menara yang ingin dibangun mencapai langit, tetapi kemudian Menara itu sendiri ambruk dan terjadi kekacauan atas bahasa mereka. Abraham setia mengikuti kehendak dan renana Allah, lalu dianugerahi keturunan dan bangsanya menjadi bangsa yang besar.

Dari tanggapan mereka akan sabda terlihat bahwa mereka yang menerima sabda dan melaksanakannya memperoleh hidup dan damai sejahtera; tetapi sebaliknya yang menerima secara asal-asalan dan kemudian tidak mengindahkannya memperoleh hidup yang sengsara dan tidak bahagia.

Perumpamaan tentang benih Sabda yang jatuh di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik, menunjuk pada tanggapan, respon, sikap orang terhadap sabda yang disampaikan atau sabda yang diterima. Ada yang menerima sabda tetapi tidak mengerti sabda itu, sehingga sabda itu tak berguna bagi dia. Ada yang menerimanya tetapi tidak menghayatinya sehingga mudah melalaikannya. Ada yang menerimanya, tetapi ketika godaan dunia datang dengan segala tawarannya berupa kekuasaan dan kekayaan, ia lebih memilih tawaran dunia itu daripada teguh berpegang pada firman. Sementara ada yang lain yang menerimanya dengan baik dan setia atasnya dalam segala keadaan hidupnya, sehingga menghasilkan banyak buah.

Berkaca pada pengalaman para tokoh yang disebutkan dalam Kitab Suci mulai dari Adam sampai dengan Abraham dalam hal penerimaan sabda dan tanggapan atasnya, sungguh tampak keagungan dan kuasa dari sabda yang di baliknya berdiri kokoh Dia yang bersabda, yaitu Allah sendiri. Atas Sabda-Nya manusia hendaknya mengambilnya dengan serius, dan menjadikannya sebagai makanannya untuk menumbuhkan dan mengembangkan diri dan hidupnya. Sabda itu hendaknya menjadi nutrisinya; sehingga tanpa itu ia akan kekurangan nutrisi bagi pertumbuhan hidupnya.  Sebab sabda itu diberikan oleh Allah kepada manusia dan Ia sendiri menghendaki agar sabda itu berbuah sebelum kembali kepada-Nya. Sebagai nutrisi, sabda itulah yang akan mengubah umat manusia dari dalam dan membaharuinya sehingga menjadi manusia baru, menjadi anak-anak Allah.

(RD. Amrosius Wuritimur)

“Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengarkan firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat dan ada yang tiga puluh kali lipat”(13:23)

Marilah berdoa

Ya Allah sang Sabda Ilahi berilah kami pengetahuan serta gerakanlah hati kami agar tetap setia melaksanakan apa yang Kau kehendaki. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini