“RAMUAN KEBAHAGIAAN”: Renungan, Rabu 19 Juli 2023

0
1323

Hari Biasa (H)

Kel. 3:1-6. 9-12; Mzm. 103:1-2,3-4,6-7; Mat. 11:25-27.

Dalam kehidupan, dengan segala pergumulan yang kita alami, sering membuat kita menjadi pribadi yang sulit menemukan kebahagiaan. Seperti halnya, seorang bapak yang pekerjaan harinya sebagai penjual pentolan. Suatu hari ia melihat seorang yang mengendarai mobil mewah di hadapannya. Rupanya ia adalah seorang bos dari sebuah perusahaan ternama. Melihat itu, bapak penjual pentolan ini berkhayal “Andai saya bisa hidup seperti orang yang berada di dalam mobil itu, pasti hidup ini terasa sempurnah”. Di saat yang sama, pria dalam mobil mewah tadi pun dengan masalah-masalah bisnis yang dihadapinya, melihat bapak penjual pentolan yang sedang santai di kursi menunggu pelanggan, dan berkata dalam hatinya, “Andai saya bisa seperti bapak penjual pentolan itu, tanpa banyak masalah seperti yang saya alami, pasti bisa lebih menikmati hidup ini”. Terkadang kita sudah berkelimpahan harta dan kedudukan tinggi, tidak membuat kita merasa bahagia. Begitu juga sebaliknya jika kita hidup berkekurangan, hanya akan mendatangkan keluhan dan merasa hidup ini hampa tak bermakna.

Lewat ajaranNya dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus memberikan sebuah ramuan yang paling ampuh mendatangkan kebahagiaan, yakni dengan bersyukur. Kenapa harus bersyukur? Dalam doa kepada BapaNya, Tuhan Yesus berkata: “Aku bersyukur kepadaMu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”. Ungkapan syukur pertama-tama dipanjatkan oleh Tuhan Yesus sebagai rasa terima kasih serta pujian atas kebahagiaan yang Ia alami. Ia berbahagia karena misteri Kerajaan Allah dinyatakan kepada orang kecil, dan disembunyikan bagi orang pandai. Orang kecil identik dengan mereka yang berkekurangan. Dari kekurangan mereka, timbul sikap rendah hati untuk dibimbing Tuhan dan mengandalkanNya. Sebagai Putra Allah sendiri, Yesus pun rela mengosongkan diriNya menjadi manusia miskin dan hina layaknya orang-orang kecil demi keselamatan dan kebahagiaan kekal umat manusia. Untuk itu kita dikehendaki oleh Dia agar berani menjadi kecil di hadapan Allah, sehingga dengan mudah menjadi seorang pelayan yang senantiasa bersyukur, serta siap melayani sesama untuk mencapai kebahagiaan.

Bagaimana pun keadaan dan siapa pun diri kita, percayalah bahwa kita semua berharga di mata Tuhan. Tuhan Yesus memiliki caraNya sendiri dalam mengantarkan kita pada kebahagiaan. Ia telah menanamkan ramuan kebahagiaan dalam diri kita masing-masing. Semuanya tergantung pemakaian ramuan itu di setiap pengalaman hidup, baik suka maupun duka. Jadi miliki dan gunakanlah rasa syukur, sebagai ramuan untuk mendatangkan kebahagiaan dalam carut-marut persolan hidup. Bahagia itu sederhana, hanya dengan bersyukur kita dapat memperolehnya!.

(Fr. Rafael Angwarmas)

“Aku bersyukur kepadaMu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat. 11:25)

Marilah berdoa:

Tuhan, jadikanlah aku sebagai pribadi yang senantiasa bersyukur kepadaMu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini