“KESETIAAN MENJADI PENGIKUTNYA”: Renungan,  Jumat 14 Juli 2023

0
1172

Hari Biasa(H)

Kej.46:1-7.28-30; Mzm.37:3-4.18-19.27-28.39-40; Mat. 10:16-23.

Pada  saat terjadi Perang Dunia II sekitar tahun 1939-1945 tepatnya di daerah Lautan Pasifik, terjadi peperangan antara pasukan Jepang dan pasukan Amerika Serikat. Salah satu hal yang unik pada perang ini yakni serangan Kamikaze. Serangan Kamikaze merupakan sebuah taktik perang yang dipakai oleh pasukan Jepang yang mana para pilot Jepang melakukan serangan bunuh diri dengan menabrakan pesawat-pesawat mereka ke barisan armada laut Amerika Serikat. Para pilot Jepang yang melakukan serangan Kamikaze merupakan para relawan yang secara sukarela mangajukan diri untuk bergabung dengan Angkatan Udara Jepang waktu itu. Tentu sebelum melaksanakan pelatihan penerbangan, para calon pilot yang akan melaksanakan serangan Kamikaze  tersebut telah mengetahui terlebih dahulu risiko atau akibat dari tindakan yang akan mereka lakukan.

Risiko atau akibat dari tindakan tersebut bukan lain dan bukan tidak adalah kematian. Meskipun risikonya adalah kematian, namun nyatanya sukarelawan yang mendaftar dan kemudian direkrut sebagai anggota pasukan Kamikaze mencapai sekitar 4500 orang.  Ada beberapa hal mendasar yang mendorong atau katakanlah jaminan bagi para calon pilot sehingga mereka memberanikan diri sebagai pilot pasukan Kamikaze. Alasan-alasan mendasar tersebut yakni ketika mereka bergabung menjadi anggota pasukan Kamikaze maka keluarga mereka akan sangat dihormati. Alasan lainnya adalah kepercayaan masyarakat Jepang bahwa ketika seseorang mati syahid atau mati demi negara maka pada kehidupan selanjutnya ia dipercaya menjadi seorang dewa atau orang suci. Pasukan Jepang yang melakukan serangan Kamikaze menunjukkan bagaimana tanggung jawab dan kesetiaan mereka melaksanakan tugas sebagai seorang prajurit Jepang meskipun harus menanggung risiko yang sangat fatal.

Sejalan dengan kisah pasukan Kamikaze yang diceritakan di atas, Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kepada para muridNya tentang risiko menjadi pengikutNya. Ia mengatakan bahwa kelak para muridNya akan diadili dan dihukum oleh para penguasa karena iman mereka. Mereka akan sangat menderita dan mendapat banyak pertentangan. Namun risiko tersebut tidak pernah menjadi halangan bagi para murid untuk terus mengikuti Tuhan Yesus. Para murid menunjukkan loyalitas dan rasa tanggung jawab mereka sebagai pengikut Kristus. Bahkan ketika sesudah peristiwa Pentakosta, para murid tetap kokoh mewartakan kebenaran dan kepercayaan mereka tentang Yesus Kristus hingga akhir hidup mereka. Hal ini dikarenakan adanya jaminan yang dikatakan sendiri oleh Tuhan Yesus bahwa para murid akan senantiasa dinaungi oleh Roh Tuhan.

Kita sebagai pengikut Kristus di dunia sekarang mungkin tidak akan mengalami situasi seperti yang dialami para murid. Kita mungkin tidak akan dihakimi karena iman kita. Bahkan kita mungkin tidak akan dianiaya karena iman kita. Maka sudah seharusnya kita menunjukan kesetiaan dan rasa tanggung jawab kita kepada Tuhan. Kita hendaknya menunjukkan kesetiaan dan rasa tanggung jawab itu lewat hidup menggereja kita. Hadir dalam kegiatan-kegiatan menggereja seperti misalnya  kerja bakti atau ikut dalam kegiatan-kegiatian kategorial gereja. Meskipun terasa berat menjadi pengikutNya, setia dan percayalah Ia tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendiri.

(Fr. Tomas Tawurutubun)

“Janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan”           (Mat 10:19)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan bimbinglah dan naungilah kamu selalu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini