“HUKUM YANG TERTINGGI”: Renungan, Jumat 21 Juli 2023

0
1015

Hari biasa (H)

Kel.  11;10-12:14; Mzm. 116:12-13, 15-16bc,17-18; Mat. 12:1-8.

Banyak peristiwa yang kita temui saat ini menunjukkan sikap yang mengabaikan rasa belas kasih. Contohnya, Para petugas medis yang demi aturan sampai mengabaikan rasa belas kasihnya pada pasien yang sakit dikarenakan alasan ekonomi dan aturan yang berlaku. Kita pun sama seperti itu, terkadang mengabaikan sikap dan rasa belas kasih yang sebenarnya ada dalam hati hanya karena aturan dan ego kita sendiri dengan sikap  dan sifat yang berbeda-beda sesuai dengan yang kita miliki.

Kisah dalam Injil hari ini menceritakan tentang orang-orang Farisi yang mengkritik apa yang diperbuat oleh para murid Yesus. Para Rasul memetik dan memakan bulir-bulir gandum di tengah perjalanan pada hari sabat, yang mana sesuai hukum taurat tindakan tersebut tidak diperbolehkan. Yesus kemudian membandingkan apa yang mereka katakan itu dengan peristiwa yang tidak jauh berbeda dengan Daud dan pengikut-pengikutnya. Bagi Yesus jika aturan atau hukum tidak mencerminkan cinta kasih, maka hukum tersebut hanya sia-sia belaka. Bahkan jika dikaitkan dengan konteks zaman sekarang, hukum pun dapat dijual-belikan. Lebih parah lagi, hukum sekarang ini hanya menjadi senjata untuk menghancurkan sesamanya sendiri, seperti seorang perawat tadi yang sampai mengabaikan rasa belas kasihnya hanya karena aturan dan hukum yang ada. Yesus tampil dan memberi contoh sebagai seorang yang berbelaskasih dan menjunjung nilai kemanusiaan.   Manusia tidak bisa dikorbankan hanya demi sebuah aturan, karena nilai dari manusia itu jauh lebih tinggi dari aturan atau hukum.

Memanglah terlihat tepat jika kita menjalankan hukum dan aturan dengan baik, dan memang benar bahwa hari sabat merupakan hari perhentian. Namun demikian tidak bisa dibenarkan jika kita harus menaruh beban kepada sesama hanya karena aturan dan keegoisan kita sendiri. Yesus hendak menunjukan bahwa kasih adalah hukum diatas semua hukum. Belas kasih akan membantu kita menjadi pribadi yang rendah hati dan murah hati. Dengan belas kasih kita dapat mengerti sesama kita dan rela menanggung penderitaan sesama kita. Rasa belas kasih bisa tumbuh dari simpati dan empati yang kita rasakan. Namun, tak hanya sekedar memiliki belas kasihan, lebih dari itu kita juga harus tergerak untuk mengekspresikan rasa tersebut sama seperti yang dilakukan oleh Yesus.

(Fr. Reijones Pantow)

“Yang Kukehendaki ialah Belas Kasihan dan bukan persembahan”. (Mat. 12:7)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami untuk semakin menaruh belas kasih terhadap sesama kami Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini