“HATI YANG DITABURI BENIH”: Renungan, Jumat 28 Juli 2023

0
1387

Hari Biasa (H)

Kel. 20:1-17; Mzm. 19:8,9,10,11; Mat. 13:18-23

Seorang petani pasti akan mencari tanah yang subur untuk ditanami berbagai macam benih tumbuhan. Setelah menemukan lahan yang tepat, petani akan mengusahakan lahan tersebut agar semakin layak ditaburi benih. Hal ini bertujuan agar benih yang ditanam tersebut dapat bertumbuh dan memberikan hasil yang baik. Hasil yang baik itu tentunya akan mendatangkan kesejahteraan pula.

Dalam bacaan pertama diceritakan tentang kesepuluh perintah Allah yang diberikan kepada Musa waktu di gunung Sinai. Kesepuluh perintah Allah ini berperan sebagai pedoman bagi manusia untuk membangun relasi yang baik dengan Allah sendiri maupun dengan sesamanya. Lantas, Injil hari ini mau menegaskan agar kita harus menjadi lahan yang baik bagi firman Allah tersebut. Firman Allah itu adalah benih yang baik, sedangkan lahan itu adalah hati kita sebagai manusia yang mau menerima benih itu dan membiarkannya bertumbuh. Setiap orang yang mau mendengarkan firman Tuhan, memahaminya dengan baik, serta melaksanakannya dalam kehidupan setiap hari, tentunya akan menghasilkan buah yang baik dan berkualitas serta jumlahnya yang berlipat ganda.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik! Pepatah ini mengajarkan kepada kita agar mampu mengembangkan diri bertolak dari pengalaman hidup yang biasa dilalui. Dalam konteks ini, kita tidak akan bisa menjadi lahan yang baik jika kita belum mengalami dan merasakan perjumpaan dengan Allah dalam firmanNya. Seperti seorang petani yang mengalami peristiwa jatuh bangun dalam kegiatan bercocok tanam, kita pun perlu belajar untuk menjadi lahan yang baik bagi benih Firman Allah itu melalui pengalaman intim bersamaNya.

Bagaimana hubungan intim itu dapat terjadi? Tentu melalui Sabda Allah yang berbicara bagi kita lewat seluruh aktivitas yang kita lalui khususnya dalam perayaan Ekarisiti. Kita perlu terbuka untuk mendengar apa yang dikehendaki Tuhan atas diri kita dalam rangka mempersiapkan diri kita sendiri sebagai lahan yang baik itu. Benih atau Firman itu pun akan memberikan kita kemampuan untuk dapat memahami dan melaksanakannya di tengah pelbagai rintangan dan godaan zaman sekarang ini. Kita tentu berharap memperoleh buah yang baik dan berkualitas, maka sudah semestinya kita belajar mengolah dan menjaga lahan tempat benih itu bertumbuh agar subur dan memberikan hasil yang baik saat waktu panen tiba.

(Fr. Simson Aldi Andreas Bawinto)

“Yang ditaburkan ditanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti” (Mat.13:23)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarlah kami menjadi lahan yang baik bagi benih sabdaMu. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini