Pw S. Marta, Maria dan Lazarus (P)
BcE dr Rybs 1 Yoh. 4:7-16; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9,10-11; Yoh. 11:19-27 atau Luk. 10:38-42
Banyak hal yang selalu kita usahakan dan lakukan untuk kebaikan bersama, contohnya pelayanan untuk orang sakit, pelayanan di paroki dan stasi, atau membantu sesama kita yang menderita. Semua ini kita lakukan untuk satu tujuan yakni memuliakan Allah. Meskipun seringkali kita mengeluh, kita gelisah, bahkan kecewa, namun itulah hal terbaik yang seharusnya dilakukan oleh kita.
Injil hari ini menampilkan dua sosok yang istimewa yakni Marta dan Maria. Marta dan Maria memiliki perannya masing-masing. Sangat jelas bahwa kita tahu persis perbedaan yang signifikan antara Marta dan Maria. Menariknya adalah Walaupun Marta sibuk melayani dan Maria hanya duduk mendengarkan Yesus, tetapi justru Marialah yang dibenarkan oleh Yesus. Pasti kita bertanya-tanya dalam hati kita bahwa Mengapa Maria dibenarkan oleh Yesus dan Marta tidak? Alasannya adalah karena Marta hanya menerima Yesus, setelah itu sibuk dengan pelayanannya dan tidak menghiraukan kehadiran Yesus. Itu berarti bahwa hubungan antara Marta dan Yesus sedikit ada jarak yang memisahkan. Sama halnya dengan hidup kita yang sering dan selalu menerima Yesus dalam diri dan hidup kita namun kita lupa untuk duduk tenang dan mendengarkan firmanNya sebagaimana yang Maria lakukan dalam injil hari ini, sehingga hubungan dan kedekatan kita dengan Yesus benar-benar dekat dan akrab.
Nah, berdasarkan kedua wanita hebat yang dikisahkan ini, ada pertanyaan sederhana yang perlu kita refleksikan dan renungkan yakni: Siapakah yang perlu kita pilih dan contohi sebagai sosok yang harus diteladani dalam hidup kita? Apakah Maria ataukah Marta? Jika kita menjawab Marta maka kita akan sibuk dengan pelayanan kepada orang lain dan jika kita memilih Maria maka kita akan sibuk dengan urusan mendengarkan Yesus. Seharusnya sebagai umat beriman kita perlu meneladani kedua sosok wanita hebat ini Yakni melayani sesama dan mendengarkan Yesus. Namun sikap Marta yang penuh dengan kekhawatiran sehingga menyusahkan diri sendiri janganlah kita contohi. Kita sibuk melayani tetapi janganlah kita lupa akan Yesus yang selalu hadir di tengah-tengah kita. Kasih kita kepada Tuhan harus nyata dan konkret bagi sesama, namun kedua tindakan ini pun haruslah seimbang.
(Fr. Markus Ngilawan)
“Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk. 10:42)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, ajarlah kami senantiasa mendengarkanMu dan mewujudkannya dalam pelayanan kepada sesama, Amin.











