“Ketaatan dan kerendahan hati”: Renungan, Sabtu 17 juni 2023

0
1508

Pw Hati Tak Bernoda SP Maria (P)

Yes. 61:9-11; MT 1Sam.2:4-5,6-7.8abcd; Luk. 2:41-51.

Peringatan wajib hati tak bernoda santa perawan Maria adalah momen di mana kita diingatkan akan keagungan dan kesucian Maria, ibu Yesus Kristus. Kita semua diajak untuk meneladani Bunda Maria dalam kehidupan kita sehari-hari. Maria adalah perempuan yang dipilih oleh Allah untuk menjadi ibu Yesus, Sang Juru Selamat. Dia hidup dengan hati yang tak bernoda, penuh dengan kerendahan hati dan ketaatan kepada kehendak Allah. Pada hari ini, kita diingatkan akan kesucian dan kemurnian hati Maria yang terus-menerus berada dalam persekutuan dengan Allah.

Dalam Yesaya 61: 9-11, kita diajak berkomitmen untuk hidup dalam kehendak Allah dan mengabdikan hidup kita untuk-Nya. Marilah kita menjalani hidup yang penuh dengan kasih dan kebenaran, dan menjadi saksi yang setia. Sedangkan, Dalam 1 Samuel 2:4-5, 6-7, 8:  kita melihat doa pujian dari Hannah, ibu nabi Samuel. Doa ini mengungkapkan keyakinan Hannah bahwa Allah adalah Tuhan yang kuat dan adil, Dia adalah hakim yang membalas perbuatan manusia. Di sini kita melihat sifat-sifat Allah yang sempurna. Allah adalah sumber kekuatan dan keadilan. Dia memiliki kuasa untuk mengangkat yang rendah dan merendahkan yang tinggi dan sebagainya.

Dalam hidup ini, seringkali kita melihat ketidakadilan tetapi kita harus ingat bahwa Allah adalah Tuhan yang adil, Dia akan menegakkan keadilan pada waktunya. Dia akan memperhatikan kita dan memberikan pertolongan-Nya.

Bacaan Injil pada hari ini mau mengajak kita untuk merenungkan akan pentingnya sikap kerendahan hati dan ketaatan Yesus. Ketika Yesus kembali bersama orang tua-Nya ke Nazaret, Ia tunduk dan taat kepada mereka. Kata-kata Lukas menggambarkan Yesus “berjalan turun bersama-sama mereka” dan “taat kepada mereka.” Hal ini menunjukkan contoh kerendahan hati Yesus yang menunjukkan pentingnya sikap rendah hati, ketaatan, dan kasih dalam hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Sama seperti yang telah dilakukan oleh BundaNya.

Melalui renungan ini, kita diajak untuk selalu bersikap rendah hati, tunduk kepada kehendak Allah, dan memprioritaskan hubungan kita dengan-Nya. Pada akhirnya kita diingatkan tentang pentingnya menjaga hati kita dalam kekudusan dan kesucian. Kita dipanggil untuk hidup dengan tulus dan setia, menjauhkan diri dari dosa dan mengikuti jalan kebenaran. Seperti Maria, kita harus memiliki hati yang terbuka bagi kehendak Allah, siap menerima panggilan-Nya dan mengabdikan hidup kita kepada-Nya.

(Fr. Alberth Keavin Owen Wee, Pr)

“…Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.”

Marilah berdoa:

Ya Allah Yang Mahabaik, curahkanlah Roh KudusMu atas diri kami masing-masing. Agar kami dapat dimampukan meneladani kerendahan hati dan ketaatan dari Bunda Maria. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini