“ROH KUDUS”: Renungan, Minggu 28 Mei 2023

0
1710

HR Pentekosta (M).

BcE : Kis. 2:1-11; Mzm. 104:1ab.24ac.29c-30.31.34; 1Kor. 12:3b-7.12-13; Yoh. 20:19-23.

Memperingati hari Pentekosta, orang-orang Yahudi biasanya berziarah ke Yerusalem. Inilah Hari Pertemuan Raya, saat mereka menyatakan bahwa mereka tetap mengakui Allah sebagai Allah mereka dan mereka tetap adalah umatNya. Inilah saat perjanjian antara Allah dengan bangsaNya dibarui dan diperkokoh.

Itulah sebabnya “di Yerusalem berkumpul orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit” (Kis 2:5). Kita juga akan mengerti mengapa “Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” (Kis. 2:2-3). Gambaran tersebut sesungguhnya dimengerti baik oleh orang-orang Yahudi yang membaca cerita ini. Mereka akan ingat gambaran tentang pewahyuan Diri Allah kepada Musa dan umat Israel di gunung Sinai, ketika Allah memberikan HukumNya kepada Musa, ketika Allah mengikat perjanjian dengan umatNya, ketika suatu umat yang baru lahir (Kel. 19:18-20).

Selanjutnya dalam Kisah Para Rasul kita mendengar: “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis. 2:4). Bila membaca teks seperti ini, orang Israel juga mengerti bahwa penulis Kisah Para Rasul sedang berbicara tentang terpenuhinya nubuat Nabi Yoel yang memaklumkan turunnya Roh Allah ke atas semua manusia  (Yl. 2:28-29).

Penulis Kisah Para Rasul menggunakan gambaran-gambaran ini untuk menegaskan bahwa hari Pentekosta adalah hari kelahiran Gereja. Inilah waktu ketika perjanjian yang baru antara Allah dengan Gereja diikat dan ditawarkan kepada segala bangsa.

Inilah pula saat ketika dunia tercengang: “Bagaimana mungkin murid-murid yang berbeda-beda itu dapat bersatu? Bagaimana orang-orang sederhana dan punya kelemahan itu, dapat mewartakan karya-karya besar Allah dengan keyakinan dan semangat berapi-api?” “Mengapa mereka tidak takut berhadapan dengan penguasa yang tidak adil dan suka main kuasa? Mengapa mereka berani tampil di depan orang banyak yang berhati keras?”.

Roh Kuduslah yang mempersatukan Para Rasul dan menciptakan mereka secara baru. Roh Kuduslah yang menaruh kata-kata bijaksana dalam mulut mereka dan memberanikan mereka untuk bersaksi melawan ketidakadilan penguasa dan ketidakpercayaan orang banyak. Roh Kudus itu dicurahkan pada kita semua. Roh Kudus itu siap membarui dan menyemangati kita. Bukalah hati kita. Biarkanlah diri kita menjadi bait kediaman Roh Kudus. Karena keajaiban-keajaiban dalam hidup lahir dari orang-orang yang didiami oleh Roh Kudus.

(Pst. Ventje F. Runtulalo, Pr)

“Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata…” (Kis. 2:4)

Marilah berdoa :

Ya Tuhan, utuslah RohMu dan baharuilah aku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini