“MISSION IMPOSSIBLE”: Renungan, Rabu 31 Mei 2023

0
1294

Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet (P)

Zef. 3:14-18; Yes. 12:2-3.4bcd.5-6; Luk. 1:39-56.

Setiap orang Kristen yang dipanggil untuk membawa dan menghadirkan Yesus bagi sesama tidak jarang mendapat ancaman yang datang dari berbagai penjuru. Ancaman terbesar datang dari diri kita sendiri. Aura pesimisme yang datang dalam bentuk pertanyaan ‘Apakah saya mampu melakukannya?’ sering kali membuat kita menyerah pada keadaan. Di situasi demikian, kita gagal membawa Yesus.

Kunjungan Maria kepada Elisabet mengajak kita belajar beberapa hal. Pertama, Maria adalah perempuan pemberani. Kendati sementara mengandung, ia berani menyusuri pegunungan menuju ke Ein Karem di kota Yehuda. Adakah perempuan yang mempunyai keberanian seperti Maria? Baginya, keadaan itu tidak boleh membatasi dan menghalanginya. Dia harus berani keluar dari zona nyaman. Dia malah harus melakukan lebih. Dia memiliki misi untuk membawa dan menghadirkan Yesus bagi orang lain, yakni Elisabet. Istri Zakharia. Perempuan yang sementara mengandung di usia tuanya.

Kedua, Maria adalah misionaris sejati. Sosok yang mau berjuang dan berkorban untuk tugas yang mulia. Keterbatasan tidak menjadi alasan untuk diam dan tidak bergerak. Malah menjadi kesempatan untuk terus berekspresi, berkarya, dan berbuah. Maria membuktikan kepada kita melalui keberhasilannya dalam menyelesaikan misi yang terlihat mustahil bagi perempuan sepanjang zaman. Berkat keberaniannya, Elisabet penuh sukacita. Dia tak pernah menyangka kalau ia akan dikunjungi saudarinya. Apalagi Maria tidak datang sendiri, tetapi membawa Yesus dalam rahimnya.

Ketiga, Maria adalah simbol persaudaraan. Ketika sampai di rumah Elisabet, Maria memberikan salam dan sapaan persaudaraan. Maria menyapa untuk mencairkan dan menghangatkan suasana. Sapaan yang mengakrabkan dan mendekatkan. Apalagi kedatangannya mau menunjuk kondisi serupa bahwa mereka sementara mengandung. Kondisi yang patut disyukuri.

Maria telah menunjukkan cara untuk menjadi misionaris. Tak ada yang dapat menghalangi niatnya. Dia siap menaklukan misi yang mustahil. Jarak yang jauh dan medan yang sulit tidak menjadi hambatan. Keberanian dan kemauan menjadi modal dan kunci keberhasilan. Maka seorang misionaris tidak boleh bersungut-sungut. Dia harus siap sedia, apapun resikonya. Sebab tak ada yang mustahil. Semuanya pasti bisa terselesaikan. Maria tak pernah tak takut. Karena Tuhan adalah pahlawan yang senantiasa menyertai sebagaimana diungkapkan nabi Zefanya.

Kita pun ditantang untuk membawa Yesus di tengah keterbatasan yang melekat pada diri kita. Serentak kita diajak menjadi pribadi yang pemberani berhadapan dengan segala kondisi. Artinya, berani bermisi untuk membawa Yesus bagi orang lain. Membawa sambil menghadirkan kasih, sukacita, dan persaudaraan.

(Fr. Ekaristo Silap)

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk 1:46-47)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah kami dalam setiap misi membawa Yesus bagi orang lain. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini