Pw S. Atanasius, UskPujG (P).
BcE Kis. 11:19-26; Mzm. 87:1-3,4-5,6-7; Yoh. 10:22-30. atau dr RUybs.
Sesudah kematian Stefanus, para murid Yesus keluar dari Yerusalem dan tersebar ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia. Mereka pergi untuk mewartakan Injil Kristus dan memberikan kesakisan kepada orang Yahudi bahwa, Yesus adalah Tuhan. Mengapa mereka berani mengatakan demikian? Karena mereka sungguh percaya kepada Yesus dan mengalami sendiri pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan dalam nama BapaNya. Itulah yang mereka alami dan kemudian memberikan kesaksian benar tentang Dia. Mereka pun merasakan bahwa Yesus sungguh bekerja di dalam diri mereka dan menyertai mereka dalam setiap langkah ke mana saja mereka pergi.
Bacaan hari ini memperlihatkan adanya sikap dan teladan baik yang patut kita tanamkan dan mengejawantahkannya dalam kehidupan kita sebagai umat beriman yang mau mendengarkan dan mengikuti Yesus. Kita baru saja mendengar kisah tentang orang Yahudi yang datang mengelilingi Yesus dan mengungkapkan ketidakyakinan mereka terhadapNya; “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias katakanlah terus terang kepada kami.” Perkataan mereka menampilkan sikap penolakan terhadap Yesus. Mengapa? Karena hati dan pikiran mereka tidak terbuka untuk menerima Yesus. Sekalipun Yesus telah memperlihatkan kebenaran dan menunjukkan segala pekerjaan Bapa lewat kata dan tindakanNya, mereka tetap menunjukkan sikap tidak percaya. Dengan perilaku seperti itu, mereka pun mengakui bahwa mereka tidak termasuk domba-domba Kristus.
Pengalaman orang Yahudi menyadarkan kita umat beriman untuk mengubah sikap atau cara hidup yang mungkin selaras dengan mereka. Hendaklah kita menjadi pribadi yang mau membuka telinga untuk mendengarkan segala perkataan ilahi atau sabda Yesus; mau membuka hati untuk menerima kebenaran ilahiNya; dan mau membuka pikiran atau akal budi untuk memahami seluruh ajaranNya. Demikianlah bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk selalu setia dan percaya kepada Yesus. Maka dari itu, marilah kita belajar dari pengalaman murid-murid Yesus, Barnabas dan Saulus. Walaupun diterpa begitu banyak hinaan, cercaan bahkan derita, mereka tetap setia mewartakan iman mereka akan Kristus, Sang juruselamat yang kita dambakan. Tujuan itu akhirnya menghantar kita kepada sikap ketaatan untuk mempertahankan iman kita. Pertanyaannya, apakah dalam kesesakan kita mampu untuk taat dan mengakui dengan berani bahwa kita adalah domba gembalaan Kristus? Atau sebaliknya malah menyangkal iman kita terhadap Dia?
(Fr. Ipel Narwadan)
“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh. 10:27)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan kuatkanlah imanku, agar dapat menjadi domba-Mu yang setia untuk mendengar dan mengikut-Mu. Amin.











