Hari Jumat Agung (M)
Yes. 52:13 – 53:12; Mzm. 31:2,6,12-13,15-16,17,25; Ibr. 4:14-16; 5:7-9; Yoh. 18:1 – 19:42
‘Sudah selesai!’ Kata-kata Yesus saat menjelang akhir hidup-Nya ini menandakan bahwa sudah selesailah penebusan dosa manusia dengan sengsara dan wafat-Nya di kayu Salib. Dalam penggalian arkeologis di tanah suci, para ahli menemukan peninggalan-peninggalan para pemungut cukai. Ada setumpuk catatan dengan tulisan dalam bahasa Yunani: ‘tetelestai’ yang berarti ‘sudah lunas’, ‘sudah selesai’. Catatan-catatan ini mengartikan bahwa jika sudah lunas membayar pajak/cukai, seorang wajib pajak tidak perlu membayarnya lagi. Dengan wafat-Nya, Kristus telah melunasi hutang-piutang dosa manusia. Manusia tak perlu membayar lagi, karena semua sudah selesai! Betapa beruntungnya manusia memiliki penebus seperti ini.
“Ia ditikam karena pemberontakan kita, Ia diremukkan karena kejahatan kita; derita yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh”. Demikian nabi Yesaya menggambarkan seorang Hamba Yahwe yang akan menderita demi keselamatan manusia. Ia mau solider dengan manusia kendati harus dengan mengorbankan nyawa. Sengsara dan wafatNya di kayu salib merupakan bukti ketaantanNya. KetaatanNya kepada Bapa dan cintaNya kepada manusia adalah totalnya ketulusan untuk menerima semua penderitaan itu. Penulis surat Ibrani mengungkapkan bahwa Kristus adalah Imam Agung kita, tetapi juga serentak Ia sendiri yang menjadi kurban. Imam Agung dan kurban ini menjadi tanda ketaatan dan cinta yang paripurna. Kita manusia pantas belajar taat dari-Nya.
Penginjil Yohanes melukiskan betul-betul bagaimana kronologi dari perjalanan ketaatan dan cinta yang akan dilalui Hamba Yahwe hingga selesai. Sebagai manusia, kita tak akan mampu jika diperhadapkan dengan situasi semacam ini, baik secara fisik maupun mental. Begitu juga yang dirasakan Yesus sebagai manusia. Tetapi, Ia tahu bahwa tanpa melalui cara-cara demikian, manusia tidak akan selamat, sehingga Ia dengan sungguh hati dan tulus melakoninya.
Lantas, apa balas kita? Yesus mengajak kita belajar dari pengorbananNya ini. Tidak ada kayu salib mematikan lagi yang akan kita pikul sama seperti yang dialamiNya, selain salib-salib kecil dan ringan dalam kehidupan kita. Kendati tak sebanding dengan salib-Nya yang berat, namun jika dipanggul dengan sikap taat dan cinta, maka hasilnya adalah keselamatan. Seorang Teolog, Thomas a Kempis berkata: “Jika engkau memanggul salibmu dengan sukacita, maka salibmu akan memanggulmu.”Karya penebusan Kristus di Kalvari telah usai. Namun, keselamatan bagi manusia terus berlangsung sepanjang zaman. Oleh karena itu, mari kita berjuang untuk sampai pada keselamatan itu dengan penuh pengorbanan, ketaatan, cinta, sukacita, dan pertobatan yang sejati, hingga pada akhirnya dengan penuh keyakinan kita sendiri dapat berucap: “Tetelestai!”
(Dkn. Ray L. A. Lolowang, Pr)
“Sudah selesai!” (Yoh. 19:30)
Marilah berdoa:
Kristus Penebus kami, bantulah kami memikul salib-salib hidup kami hingga mencapai garis akhir dengan penuh pengorbanan, ketaatan, cinta, sukacita, dan pertobatan sejati. Dan, ingatlah kami semua bila Engkau datang sebagai Raja. Amin.











